Kembalikan Ruh yang Terisolasi, Babak Baru JATMAN Arjawinangun Dekati Kiai Kampung

JATMAN-Arjawinangun
Suasana silaturahmi ulama sepuh dan pengurus JATMAN Arjawinangun Cirebon saat peringatan Maulid Nabi dan Istighosah di Masjid Jami Tegalgubug. Foto: Istimewa

CIREBONINSIDER.COM – Gerakan senyap namun mendalam tengah bergulir di akar rumput Kabupaten Cirebon. Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) di tingkat kecamatan mulai membongkar sekat lama: mengembalikan eksistensi tarekat dari lingkaran terbatas menuju pelukan hangat masyarakat desa.

​Sinyal pembaharuan ini menguat dalam gelaran Peringatan Maulid Nabi dan Istighosah Lil Hidmatil Muktamar ke-35 di Masjid Jami’ Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun. Agenda ini dihadiri para ulama sepuh, jajaran MWCNU, serta badan otonom (Banom) NU setempat.

​Merangkul Kembali Kiai Kampung

​Sekian lama, tradisi dan pengajaran thariqah terkesan hanya diakses oleh lingkaran terbatas. Mudir JATMAN Kecamatan Arjawinangun, K. Nasihan Irfan, secara terbuka menyampaikan komitmennya untuk mengikis pola eksklusif tersebut.

Baca Juga:Jelang Muktamar Ke-35 NU Jombang, Cirebon Dorong Putra Daerah Jadi Rois AmJATMAN Plumbon Dilantik, Siapkan Ulama Sepuh Boyong Kitab Tasawuf ke Desa-Desa

​JATMAN Arjawinangun kini memosisikan diri sebagai ruang terbuka yang merangkul kembali para kiai kampung dan ulama sepuh di tingkat akar rumput, mengembalikan fungsi tarekat sebagai sarana penguatan nilai keumatan.

​Langkah re-integrasi ini mendapat apresiasi penuh dari Rais JATMAN Kab. Cirebon, KH. Anis Manshur, yang hadir mendampingi Mudir JATMAN Kab. Cirebon K. Mas’ud Suhaemi dan Wakil Mudir K. Fauzi Mansyur. Mereka menilai dedikasi pengurus kecamatan dalam merangkul kiai kampung adalah fondasi penting dalam menjaga marwah jam’iyyah.

​”Ruhnya NU itu JATMAN, sehatnya NU ada di JATMAN. Cara menyehatkannya adalah dengan meramaikan kembali majelis-majelis Thariqah di wilayah Arjawinangun,” tegas KH. Anis Manshur.

​Sinergi Ulama Membangun Benteng Spiritual

​Kehadiran para tokoh keagamaan dalam momen ini mempertegas simpul konsolidasi kultural di Cirebon:

– ​KH. Anis Manshur menempatkan spiritualitas tarekat sebagai jantung organisasi yang harus dihidupkan hingga ke pelosok desa.

– ​K. Mas’ud Suhaemi & K. Fauzi Mansyur mengawal penataan organisasi di tingkat basis agar terus sejalan dengan garis perjuangan Nahdlatul Ulama.

– ​K. Nasihan Irfan mendorong keterbukaan akses majelis agar kesejukan thariqah dapat dirasakan langsung oleh seluruh jamaah.

Baca Juga:Sophi Zulfia Kunci Sinergi Fatayat NU, Benteng Perempuan dan Anak Cirebon Makin KokohTransformasi Dakwah Digital MWC NU Kapetakan: Jaga Tradisi, Sambut Inovasi

– ​KH. Rahmatullah, ulama sepuh Tegalgubug, memimpin doa penutup yang menyimbolkan restu spiritual bagi keselamatan organisasi dan kelancaran Muktamar NU ke-35.

0 Komentar