CIREBONINSIDER.COM — Banjir tahunan di kawasan bawah Cirebon kerap berakar dari masalah yang sama: aliran air hujan yang meluncur bebas dari daerah tangkapan hulu.
Memutus rantai masalah tersebut, Pemerintah Kabupaten Cirebon menggeser fokus mitigasi. Penanganan kini tak lagi menunggu genangan muncul di hilir, melainkan mengunci aliran air langsung dari resapan atas.
Desa Sidawangi di Kecamatan Sumber dipilih menjadi titik pijak utama. Berada di kaki kawasan yang lebih tinggi, kawasan ini memegang fungsi ekologis vital sebagai penahan pertama air hujan sebelum masuk ke pemukiman warga.
Baca Juga:Menyulam Pohon, 400 Santri Asalafie Babakan Ciwaringin Gelar Wisuda HijauDi Balik Estafet Mahkota Binokasih: Dedi Mulyadi "Sidak" Pohon dan Tebing di Jalur Sumedang-Ciamis
Dua Teknik Kunci: Pohon Berakar Dalam dan Rorak
Penyelamatan kawasan resapan ini tidak cuma mengandalkan aksi simbolis. Pemkab Cirebon menggabungkan dua metode konservasi tanah dan air sekaligus:
– Tanam Vegetasi Pengikat Tanah: Sebanyak 150 bibit pohon keras ditanam untuk jangka panjang. Akar Mahoni, Jamblang, dan Glodokan bertugas memperkuat struktur tanah sekaligus membuka pori-pori tanah agar air lebih cepat meresap.
– Pembuatan Rorak Penahan Aliran: Lubang-lubang penampung air dibuat di jalur aliran permukaan. Rorak memaksa air hujan berhenti sejenak, mengendap, dan meresap ke dalam bumi, alih-alih meluncur deras menjadi banjir limpasan.
”Sidawangi ini dataran tinggi. Supaya air dari atas tidak langsung limpas ke bawah, kita tahan dulu menggunakan rorak,” ujar Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman (Jigus), di sela aksi konservasi.
Sebaran 150 Pohon di Titik Resapan Utama
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon membagi penanaman ke dalam tiga titik strategis yang dinilai paling rawan erosi limpasan:
Area Jalan Pangeran Kejaksan bagian pertama diperkuat dengan 30 pohon mahoni dan 50 bibit jamblang. Masih di koridor yang sama, 20 pohon glodokan ditanam untuk mengular di sepanjang jalur resapan.
Sementara itu, titik fokus ketiga berada di area belakang Kompleks Kota Baru Keandra Sidawangi. Sebanyak 50 pohon mahoni difokuskan di area ini untuk menahan resapan air di sekitar kawasan perumahan.
Baca Juga:Jalan Ahmad Yani Cirebon Lumpuh: Pohon Angsana Raksasa Tumbang Timpa Mobil, Alarm Bahaya Cuaca EkstremKuningan Jadi 'Paru-Paru' Rebana, Gubernur Dedi Mulyadi: Lebih Baik Banyak Pohon daripada Uang
Peta Risiko Hulu-Hilir dan Ujian Pasca-Tanam
Langkah di Sidawangi menjadi awal dari pemetaan ulang kawasan rawan bencana di Cirebon. Pemkab Cirebon menginstruksikan DLH bersama BPBD untuk mendata kembali area resapan yang mulai kritis.
