CIREBONINSIDER.COM — Dinding Lapas Narkotika Kelas IIA Cirebon di Desa Gintung Tengah, Ciwaringin, menampung beban serba berat. Tempat yang dirancang ideal untuk 460 orang itu kini dipaksa menampung 1.427 warga binaan.
Angka tersebut merekam fakta lapangan yang memprihatinkan. Lapas mengalami overcapacity melampaui 300 persen.
Potret ironis ini mengemuka saat penyerahan remisi Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Sesaknya kapasitas lapas menjadi alarm keras bahwa peredaran gelap narkoba di wilayah Cirebon dan sekitarnya masih tergolong mengkhawatirkan.
Baca Juga:Modal Lepas Status Narapidana, Warga Binaan Lapas Cirebon Disuntik Skill Konstruksi hingga Servis ACTembus Pasar Spanyol, Lapas Cirebon Transformasi Warga Binaan Jadi Eksportir dan Penopang Pangan
Cermin Darurat Narkoba di Daerah
Bupati Cirebon Imron secara terbuka menyoroti situasi tersebut. Menurutnya, lonjakan angka penghuni lapas memotret betapa masifnya jaringan narkoba menjerat berbagai lapisan masyarakat.
Warga dari kelompok ekonomi bawah kerap tergiur menjadi pengedar demi bertahan hidup. Sementara itu, kelompok berada kerap memandang bisnis haram ini sebagai jalan pintas meraup keuntungan besar.
Imron menegaskan bahwa penanganan darurat narkoba tidak bisa membebankan aparat atau pemerintah semata. Benteng pertahanan terkuat berada pada ketahanan keluarga, kepekaan orang tua, serta penguatan ilmu dan nilai kerohanian.
Bekal Mandiri dari Balik Jeruji
Di tengah himpitan ruang yang terbatas, sebanyak 1.279 warga binaan menerima pengurangan masa pidana setelah memenuhi syarat administratif dan substantif. Adapun 148 orang lainnya belum mendapatkan remisi karena terbental status pidana seumur hidup, masa kurungan subsider, atau dokumen yang belum lengkap.
Kalapas Narkotika Kelas IIA Cirebon, Machda Landasny, memastikan program pengawasan dan pembinaan tetap berjalan optimal meski fasilitas dalam kondisi penuh sesak.
Sistem pembinaan difokuskan pada dua arah utama. Pertama, pembinaan mental spiritual melalui pengajian berkala bersama Kemenag Cirebon dan olahraga rutin. Kedua, pembinaan kemandirian berupa pelatihan UMKM, ekonomi kreatif, hingga program ketahanan pangan bersama instruktur profesional.
Di sektor ketahanan pangan, para penghuni mengelola peternakan 500 ekor ayam petelur melalui koperasi pegawai, dengan rencana penambahan 500 ekor lagi di luar area lapas. Hasil panen telur dialokasikan untuk kebutuhan bahan makanan internal, kantin, hingga dijual ke pasar umum.
Baca Juga:Menbud ke Keraton Kasepuhan dan Rencana Transformasi Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Jadi Taman BudayaSisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi Mulyadi
Langkah ini disiapkan sebagai modal sosial dan ekonomi bagi warga binaan. Saat resmi menghirup udara bebas, mereka diharapkan memiliki keterampilan nyata untuk kembali berdiri di tengah masyarakat tanpa terjerumus ke lubang yang sama.(*)
