CIREBONINSIDEN.COM – Ancaman kekeringan tak lagi disikapi dengan pola lama. Pemerintah Kabupaten Indramayu mengambil langkah terobosan untuk mengamankan statusnya sebagai lumbung pangan nasional.
Lewat integrasi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan program Listrik Masuk Sawah, pasokan air bagi petani kini ditarik langsung dari perut bumi. Langkah strategis ini diresmikan dalam serah terima aset operasional JIAT Inpres Nomor 2 Tahun 2025 di Balai Benih Tanaman Pangan Kecamatan Cikedung, Selasa (18/8/2026).
Bukan Sekadar Bantuan Formalitas
Langkah ini menyasar titik krusial: kawasan sawah tadah hujan yang selama ini menjadi wilayah paling rentan saat musim kemarau tiba.
Baca Juga:Selain Kemarau Warga Argasunya Cirebon Terjebak Air Tanah Asin dan Pipa 'Kerdil'Antisipasi Kemarau Ekstrem, Wali Kota Cirebon Effendi Edo 'Jemput Bola' Solusi ke Mabes AD
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menegaskan bahwa bantuan infrastruktur pengairan ini wajib dikawal ketat oleh jajaran camat hingga pemerintah desa agar tepat sasaran dan berdaya guna.
”Selagi para petani masih semangat menanam, kami akan optimistis. Bertani itu bisa membuat makmur,” ujar Lucky Hakim.
Lucky juga mendorong para petani mengubah pola tanam di musim kering. Lahan pertanian diminta tidak dibiarkan menganggur, melainkan dimanfaatkan untuk komoditas efisien air seperti jagung, semangka, melon, serta tanaman palawija.
Peta Strategis: 63 Titik JIAT Disetujui
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heriyanto, merinci peta jalan mitigasi kekeringan daerah. Dari usulan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, sebanyak 63 titik JIAT resmi disetujui dan siap beroperasi. Sementara itu, 47 titik tambahan saat ini masih dalam proses verifikasi teknis.
Pembangunan jaringan irigasi ini difokuskan pada kawasan rawan kekeringan, meliputi Kecamatan Gantar, Kroya, Terisi, serta sebagian wilayah Cikedung dan Gabuswetan.
”Ini langkah konkret memitigasi kekeringan. Semua tidak akan berjalan tanpa sinergi penuh dengan para petani di lapangan,” jelas Sugeng.
Efisiensi Biaya lewat Listrik Masuk Sawah
Dukungan pemerintah pusat turut memperkuat skema ini. Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI, Hermansyah, menyebut kombinasi JIAT dan Listrik Masuk Sawah merupakan solusi jangka panjang yang sangat krusial.
Baca Juga:El Nino 2026: Ancaman Kemarau Ekstrem Bayangi Indramayu, Stok Beras Nasional DipertaruhkanPrediksi BMKG 2026: 93% Wilayah Jawa Barat Dilanda Kemarau Panjang, Cirebon-Indramayu Masuk Zona Merah
Penggunaan daya listrik untuk menggerakkan mesin pompa air dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM). Efisiensi ini secara langsung memangkas biaya operasional petani di lapangan.
