​Tekan Rugi Pascapanen, Cara FAO Boyong Petani Jawa Barat Bedah Industri Mangga Filipina

Petani-Mangga-Jawa-Barat
​Petani mangga Jawa Barat bersama BRIN dan FAO saat mempelajari teknologi pengolahan pascapanen di fasilitas industri mangga Guimaras Filipina. Foto: Istimewa/Doc FAO

CIREBONINSIDER.COM — Kerugian pascapanen dan ancaman lalat buah masih menjadi batu sandungan utama bagi industri hortikultura Indonesia. Masalah ini kerap membuat kualitas fisik mangga lokal gugur sebelum sampai ke pasar ekspor.

​Padahal, secara volume produksi, Indonesia adalah raksasa. Data BPS mencatat produksi mangga nasional menembus 3 juta ton pada 2025. Namun, akibat tingginya susut hasil panen dan minimnya standar mutu, nilai ekspor justru merosot 37 persen menjadi 1,1 juta dolar AS (sekitar Rp19,78 miliar). Sebaliknya, nilai impor mangga malah melonjak 27 persen hingga menyentuh 2,32 juta dolar AS (sekitar Rp41,74 miliar).

​Melihat kesenjangan teknis ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengambil langkah konkret. FAO memfasilitasi delegasi Indonesia untuk bedah industri dan belajar langsung ke Provinsi Guimaras, Filipina, pada 27–31 Juli 2026.

Baca Juga:Mangga Gedong Gincu Indramayu Semakin Mendunia, Bupati Lucky: Permintaan Meningkat, Petani SejahteraResmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Gedong Gincu Sah Jadi Mangga Khas Indramayu

​Delegasi yang diboyong mencakup gabungan perwakilan kelompok tani mangga asal Majalengka Jawa Barat, pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta pejabat Kementerian Pertanian.

​Belajar dari Kampiun Ekspor Guimaras

​Filipina dipilih karena rekam jejaknya dalam mengelola rantai pasok buah bernilai tinggi. Meski total produksinya berada di angka 764.000 ton pada 2024, negara ini berhasil menjadikan mangga sebagai komoditas ekspor buah terbesar ketiga yang menopang hidup 2,5 juta petani.

​Pusat keunggulannya berada di Provinsi Guimaras, rumah bagi Carabao Mango—varietas mangga termanis dunia yang tersertifikasi Geographical Indication (GI). Di wilayah ini, angka susut pascapanen mampu ditekan hingga titik minimum.

​”Mengingat kemiripan kondisi sosial-ekonomi dan iklim Indonesia serta Filipina, pertukaran pengetahuan ini menawarkan solusi praktis yang telah terbukti efektif untuk menjawab tantangan bersama,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste.

​Tiga Kunci Teknologi Penyelamat Mutu

​Selama kunjungan lapangan, para petani Jawa Barat dan peneliti BRIN membedah langsung teknologi yang digunakan Filipina untuk menjaga kualitas fisik buah agar lolos standar global:

– ​Perlakuan Uap Panas (Vapor Heat Treatment): Metode steril yang efektif membasmi larva dan telur hama tanpa merusak struktur serta kesegaran daging buah.

– ​Sistem Pemetikan Mekanis: Teknik panen terstandar untuk mencegah lelehan getah merusak tampilan kulit luar mangga.

0 Komentar