CIREBONINSIDER.COM – Politik hari ini bukan sekadar panggung perebutan kekuasaan para elite atau gimik baliho di sudut kota. Di balik riuk-pikuknya, ada harga mahal yang diam-diam dibayar: melunturnya kompas moral generasi muda akibat paparan pragmatisme politik yang kian masif.
Fenomena “yang penting realistis” dan “apa untungnya buat saya?” kini menjadi mantra awam yang menggejala di kalangan pemuda. Kerap diwajarkan sebagai strategi bertahan hidup dalam kerasnya panggung politik, transaksi pragmatis ini mengancam peran kritis anak muda sebagai motor perubahan sosial.
Sorotan tajam tersebut mengemuka dalam forum Generasi Politik (Genpol) InterAksi Chapter Cirebon yang digelar di Gedung DPRD Kota Cirebon, Sabtu (19/9/2026). Forum ini membedah paradoks antara pragmatisme, idealisme, dan realitas kebijakan publik dari tiga kacamata sekaligus: politisi, aktivis, dan akademisi.
Baca Juga:Ujian Pertama Gus Kikin, Mampukah Kabinet Baru PBNU Lepas dari Bayang Politik?Bukan Cuma Tensi Politik, 12 Ribu Porsi Makan Gratis Amankan Pasokan Gizi Muktamar Ke-35 NU
Birokrasi Mengaku Terbatas, Minta Kritik Berbasis Data
Hadir dalam forum tersebut, Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, blak-blakan mengakui keterbatasan mesin birokrasi dalam merespons dinamisnya kebutuhan masyarakat. Mulai dari penataan transportasi, perbaikan jalan, pelayanan kesehatan, hingga ruang tumbuh UMKM kreatif, seluruhnya merupakan produk dari keputusan politik.
Siti Farida menegaskan, birokrasi tidak boleh berjalan dalam ruang hampa tanpa kontrol sosial dari anak muda. Namun, ia memberi catatan tebal terkait kualitas kritik yang dilayangkan generasi muda saat ini.
”Birokrasi tidak bisa bekerja sendirian. Kami butuh masukan segar, namun kritik tersebut jangan berhenti pada reaksi atau emosi belaka. Kita butuh generasi yang melek kebijakan publik—kritik harus tajam, berbasis data, dan solutif,” tegas Siti Farida.
Pernyataan ini menegaskan bahwa partisipasi politik anak muda tidak cukup hanya hadir di tempat pemungutan suara (TPS), melainkan harus mengawal jalannya instrumen kebijakan secara teknis dan rasional.
Mengurai Pragmatisme: Jangan Hilangkan Kompas Moral
Sementara itu, Ketua Pelaksana Genpol InterAksi Chapter Cirebon, Mario Asyidik, menekankan bahwa isu pragmatisme politik di tingkat lokal sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan jika dibiarkan tanpa arah.
Pragmatisme sering kali menjadi pilihan serba instan, baik bagi warga maupun kandidat. Namun, ketika idealisme sepenuhnya ditukar dengan keuntungan jangka pendek, nilai tawar pemuda sebagai pengawal demokrasi otomatis gugur.
