Mengawal 179 Ribu Ibu-Anak, Bidan Indramayu Bebas Hambatan Lanjut Pendidikan

Kadinkes-Indramayu-Wawan-Ridwan
dr. Wawan Ridwan, Kepala Dinkes Indramayu, memberikan sambutan di podium dengan logo Ikatan Bidan Indonesia (IBI) saat puncak HUT IBI, menegaskan komitmen izin belajar bidan. Foto: Istimewa

​CIREBONINSIDER.COM — Beban di pundak para bidan Kabupaten Indramayu tidak main-main. Sebanyak 179.412 jiwa sasaran pelayanan kesehatan ibu dan anak kini bergantung langsung pada ketepatan tangan mereka di lapangan.

​Beban pelayanan ini mencakup 30.797 ibu hamil, 30.718 ibu bersalin, serta 117.898 balita yang tersebar di seluruh pelosok Indramayu.

​Angka jumbo ini bukan sebatas kalkulasi statistik di atas kertas. Ratusan ribu jiwa tersebut merupakan benteng utama Indramayu dalam menjaga kualitas generasi masa depan, sekaligus mengawal keberhasilan penanganan stunting daerah yang kian membaik.

Baca Juga:Bukan Sekadar Tangkap Kriminal, Polisi Indramayu Pacu Panen 437 Ton JagungSidak Kilang Balongan, DPR Sentil Risiko Kebakaran dan Bayang-Bayang Kelangkaan Gas Warga Indramayu

​Menjawab tantangan beban kerja yang begitu besar, Pemerintah Kabupaten Indramayu mengambil langkah terobosan. Pemkab resmi membuka “karpet merah” berupa kemudahan izin belajar tanpa hambatan birokrasi bagi para bidan yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikannya.

​Karpet Merah Pendidikan Tinggi Bidan

​Langkah ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kualitas SDM tenaga medisnya.​Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, dr. Wawan Ridwan, menegaskan komitmen Pemkab untuk memberikan persetujuan penuh bagi setiap bidan desa maupun puskesmas yang mengajukan izin belajar.

​”Mulai kepemimpinan sekarang ini sudah dibuka selebar-lebarnya. Setiap kali ada bidan yang mengajukan izin belajar untuk melanjutkan pendidikan, kita approve, kita izinkan semua,” ujar dr. Wawan Ridwan saat Puncak Peringatan HUT ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Aula Nyi Endang Dharma Universitas Wiralodra, Sabtu (19/9/2026).

​Langkah penataan ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang krusial. Menurut Wawan, bidan bukan sekadar tenaga medis pendamping, melainkan garda terdepan sekaligus fondasi utama dalam transformasi pelayanan kesehatan primer.

​Bertransformasi Menuju Generasi Emas 2045

​Tantangan pelayanan di lapangan bergerak makin cepat. Ekspektasi masyarakat yang makin tinggi, lompatan teknologi kesehatan, serta target penekanan angka kematian ibu dan bayi menuntut bidan untuk terus beradaptasi.

​Ketua Pengurus Daerah (PD) IBI Jawa Barat, Bdn. Mira Karmila, menyebut transformasi sebagai syarat mutlak agar organisasi profesi tetap relevan dan sigap menjawab kebutuhan publik.

​”Tantangan kesehatan semakin kompleks dan teknologi berkembang begitu cepat. Organisasi profesi harus terus bertransformasi agar mampu menjawab berbagai tantangan serta memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegas Mira.

0 Komentar