​Seni Menjinakkan Badai Global, Ekonomi Indonesia Tetap Perkasa Tumbuh 5,61%

Wamenkeu-Juda-Agung
Wamenkeu Juda Agung menyampaikan pidato kunci terkait sinergi kebijakan KSSK pada Konferensi BMEB 2026 di Bali. Foto: Istimewa /Doc Kemenkeu 

CIREBONLINSIDER.COM — Ketidakpastian ekonomi global sedang berada di titik terpanas. Namun, benteng pertahanan ekonomi Indonesia justru berdiri makin kokoh.

​Bukan karena kebetulan. Ada strategi racikan matang di balik angka-angka tersebut.

​Dalam ajang The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference di Bali, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung membongkar resep utama ketahanan nasional: Sinergi Tanpa Celah.

Baca Juga:Sinergi tanpa Sekat, Prabowo Percayakan Juda Agung Perkuat Benteng Fiskal-MoneterSinergi Moneter-Fiskal: Thomas Djiwandono Sah Jabat Deputi Gubernur BI 2026-2031

​Moneter Sebagai Rem, Fiskal Sebagai Gas

​Menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai global ibarat mengemudikan kendaraan di jalan licin. Salah merespons, kendaraan bisa terguling.

​Kebijakan moneter bertindak sebagai lini pertahanan pertama. Tugas utamanya jelas: menahan gejolak nilai tukar, menekan inflasi, dan mengamankan kepercayaan pasar.

​Namun, menginjak rem moneter terlalu dalam berisiko mematikan mesin pertumbuhan. Di sinilah peran vital kebijakan fiskal masuk.

​”Ini adalah koordinasi kebijakan yang perlu kita gunakan sebagai kerangka kerja dalam situasi saat ini,” tegas Juda Agung.

​Melalui APBN, pemerintah mengambil peran sebagai penyerap kejutan (shock absorber). Subsidi energi dan pangan tetap dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat. Di saat bersamaan, defisit anggaran dikunci ketat di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB melalui efisiensi belanja negara yang terukur.

​Bukti Nyata Hasil Sinergi KSSK

​Koordinasi dalam wadah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)—yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS—bukan sekadar formalitas di atas kertas. Hasilnya nyata dan berdampak langsung ke lapangan.

​Ekonomi Indonesia terbukti mampu tumbuh solid sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026, melampaui rata-rata kawasan. Inflasi pun tetap terkendali dalam sasaran target 2,5±1 persen, membuat harga kebutuhan pokok masyarakat relatif stabil.

Baca Juga:Menkeu Purbaya Akui Ada 'Friksi' Fiskal-Moneter sebelum Ekonomi 2026 Pulih: Nyaris Ganggu StabilitasHarga Minyak Dunia Naik, CORE: Berdampak pada Kebijakan Moneter Global, Termasuk di Indonesia

​Di sisi lain, tata kelola keuangan negara tercatat sangat sehat. Defisit APBN semester I 2026 ditekan hingga 0,76 persen terhadap PDB, disokong amunisi cadangan devisa yang tebal mencapai USD 145,6 miliar. Sektor riil juga terus bergerak aktif, terbukti dari pertumbuhan kredit perbankan yang tetap deras di angka 12,67 persen.

​Dampak Langsung bagi Masyarakat

​Sinergi instrumen ekonomi ini bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan jaminan perlindungan bagi publik:

0 Komentar