Atap Stasiun Cirebon Disulap Jadi "Pabrik Listrik", KAI Berhasil Pangkas Tagihan dan Emisi Fosil!

Stasiun-Cirebon-Daop-3-Cirebon
Pemandangan udara Stasiun Cirebon Daop 3 menampilkan jajaran panel surya PLTS terpasang di atap untuk efisiensi energi hijau. Foto: Istimewa /Doc KAI Daop 3 Cirebon

CIREBONINSIDER.COM — Jalur rel bukan lagi satu-satunya panggung transformasi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Di wilayah operasional Daop 3 Cirebon, atap-atap stasiun kini disulap menjadi tempat “memanen” energi bersih.

​Langkah strategis ini menjadi jurus ampuh KAI memangkas ketergantungan pada listrik fosil, sekaligus mengejar target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060.

​Atap Stasiun Cirebon, Stasiun Cirebonprujakan, hingga Stasiun Brebes kini tak sekadar menahan terik matahari. Rangkaian panel surya jenis on-grid berkapasitas total 80 kilowatt peak (kWp) telah aktif beroperasi penuh.

Baca Juga:Revolusi Energi Hijau: Presiden Instruksikan Percepatan PLTS 100 GW, PLN Jadi Ujung TombakPrabowo Bentuk Satgas Transisi Energi: Targetkan 120 Juta Motor Listrik dan 100 GW PLTS dalam 4 Tahun

​Sistem on-grid ini terhubung langsung ke jaringan listrik PLN. Pasokan arus dipastikan tetap stabil tanpa risiko padam, sementara konsumsi energi fosil bisa langsung ditekan.

​Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin, menegaskan transisi energi ini bukan sekadar formalitas. Ini murni langkah efisiensi dan komitmen nyata terhadap lingkungan.

​”Penggunaan solar panel di tiga stasiun ini adalah bentuk nyata kontribusi kami menciptakan operasional yang lebih ramah lingkungan,” ujar Muhibbuddin saat dikonfirmasi di Cirebon.

​Dominasi Stasiun Cirebon dan Sebaran Energi

​Sebaran instalasi PLTS ini menempatkan Stasiun Cirebon Kejaksan sebagai pusat penghasil energi surya terbesar dengan kapasitas mencapai 46 kWp. Diikuti oleh Stasiun Cirebonprujakan berkapasitas 22 kWp, Stasiun Brebes sebesar 12 kWp, serta dukungan instalasi tambahan di bangunan dinas Griya Karya Cirebon.

​Dari gabungan atap stasiun tersebut, Daop 3 mampu memproduksi energi bersih rata-rata 11.610 kWh per hari, atau menembus 348.300 kWh setiap bulannya.

​Listrik hijau ini langsung dialirkan untuk menghidupkan berbagai fasilitas vital penunjang penumpang. Mulai dari sistem pencahayaan area stasiun, pendingin udara (AC) di ruang tunggu, hingga layar informasi jadwal keberangkatan (Passenger Information Display System).

​Dampaknya langsung terasa pada kas operasional. Muhibbuddin membeberkan, penggunaan panel surya ini sukses memangkas penggunaan listrik hingga 7 sampai 9 persen, terutama di dua titik sibuk yakni Stasiun Cirebon dan Cirebonprujakan.

Baca Juga:Indramayu Cetak Sejarah Baru: Cemara Kulon Jadi Pionir Desa Wisata Ramah Lingkungan Berbasis PLTSSengkarut Proyek Motor Listrik BGN: Komisaris PT YAT Ditahan Jampidsus, Mark Up Anggaran Rp60 Juta Per Unit!

​Bukan Cuma Atap: Lokomotif B50 dan Sanitasi Hijau

​Gebrakan ramah lingkungan Daop 3 Cirebon ternyata tak berhenti di atap bangunan stasiun. Di atas rel, armada lokomotif juga mulai menyerap penggunaan bahan bakar terbarukan Biosolar B50 yang jauh lebih bersih untuk menekan emisi gas buang mesin diesel.

0 Komentar