CIREBONINSIDER.COM — Pemerintah tidak lagi mau cuma sibuk mengobati orang sakit di rumah sakit. Visi besarnya kini diubah total: menjaga warga tetap sehat langsung dari rumah sendiri.
Targetnya tidak main-main. Angka harapan hidup masyarakat Indonesia dipatok naik tajam dari 74 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun ke depan.
Jawa Barat langsung mengambil posisi sebagai garda terdepan.
Komitmen kuat itu dikunci langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan bersama Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat meluncurkan Program KITA SEHAT di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Baca Juga:BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun Per Bulan, 55 Juta Kartu Peserta 'Mati'Dilema Digital di Balik Wayang Golek, Cara Komdigi Sentil Kesehatan Mental Anak di Matangaji Cirebon
Revolusi Kesehatan: Cegah Sebelum Parah
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan nasional itu sangat sederhana. Bukan seberapa megah gedung rumah sakitnya, melainkan seberapa panjang dan berkualitas usia hidup warganya.
Pemerintah kini menempatkan penguatan layanan primer sebagai prioritas paling mutlak. ”Fokus utama pemerintah adalah menjaga masyarakat agar tetap sehat, baru kemudian mengobati masyarakat yang sakit. Oleh karena itu, penguatan layanan kesehatan primer menjadi prioritas,” tegas Budi.
Masyarakat didorong untuk tidak takut mendatangi fasilitas kesehatan saat masih merasa sehat. Pemeriksaan kesehatan tahunan bakal digencarkan sebagai langkah deteksi dini. Langkah ini menjadi jaring pengaman agar warga terhindar dari penyakit kronis yang menguras kantong keluarga maupun kas BPJS Kesehatan.
Kartu Truf Jawa Barat: Menerobos Ujung Desa
Menjangkau 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat tentu bukan urusan sepele. Geografi yang kontras dari pesisir hingga pegunungan menuntut terobosan yang benar-benar membumi.
Wagub Erwan Setiawan menegaskan, Tanah Pasundan tidak berangkat dari nol. Jabar sudah menyiapkan fondasi kuat melalui inovasi Program Dokter Desa.
Tenaga medis tidak lagi menunggu pasien di puskesmas kota, melainkan diterjunkan langsung menyisir wilayah terpencil dan terisolir. Akses berobat yang tadinya memakan waktu berjam-jam kini dipangkas habis hingga ke depan pintu rumah warga.
Inovasi ini menjadi mesin utama untuk mengejar dua target paling krusial di daerah: memberantas stunting dan memperbaiki gizi balita secara masif.
