CIREBONINSIDER.COM — Indonesia sedang bersiap melakukan lompatan ekstrem di sektor energi dan manufaktur strategis. Di tengah ketidakpastian global, sinyal kemandirian total mulai dinyalakan langsung dari jantung pertahanan pangan nasional.
Pemerintah secara terbuka menegaskan posisi tawar baru Indonesia di kancah internasional. Karakter bangsa yang ramah tidak boleh lagi disalahartikan sebagai kelemahan atau celah untuk didikte oleh kekuatan asing.
”Kita tidak mau bodoh lagi. Kita ramah dibilang lemah. Kita baik dibilang bodoh, ya sudah lah. Kita bersahabat mau datang ke Indonesia, monggo. Tapi kita sekarang mau jadi bangsa yang bangkit,” tegas Presiden saat menghadiri Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Baca Juga:Efek Domino B50 dan Minyak Dunia $73: Skenario Jitu Penyelamat APBN 2027Presiden Prabowo Umumkan Jadwal Peluncuran Solar B50 Berbasis Sawit di PENAS XVII Gorontalo
Pernyataan bernyawa ini menjadi motor penggerak bagi serangkaian proyek strategis nasional yang sempat tertidur pulas. Salah satu pembuktian nyata adalah pengoperasian kembali blok gas raksasa regional yang sempat mangkrak selama 28 tahun berturut-turut.
Ekspansi Bioetanol: Kejar Standar India, Mampukah Indonesia Tembus Rekor Brasil?
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memutus total rantai ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM).
Setelah mencetak sejarah sebagai negara pertama di dunia yang sukses memproduksi massal B50 dari kelapa sawit, target berikutnya bergeser ke sektor bioetanol secara agresif. Langkah taktis ini diambil untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara berkembang lainnya.
Saat ini, India sudah melesat dengan kebijakan E20, sedangkan Brasil jauh memimpin di tingkat global dengan capaian ekstrem E100. Sementara itu, Indonesia saat ini baru memiliki satu pabrik bioetanol yang beroperasi aktif.
Melihat ketimpangan infrastruktur tersebut, pemerintah langsung mengambil keputusan ekstrem di lapangan. Target pembangunan pabrik pengolahan energi hijau langsung digandakan secara masif dalam waktu singkat.
”Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20, butuh pabrik. Tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan, kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik. India sudah E20. Brasil sudah E100. Masa Indonesia tidak bisa? Bisa,” lanjutnya dengan optimisme tinggi.
