Bukan Lagi Bangsa Ramah yang Lemah, Indonesia Gebrak Peta Energi Dunia lewat 50 Pabrik Bioetanol

Presiden-Prabowo-Subianto
Presiden Indonesia memberikan sambutan tegas pada Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Ia menegaskan hilirisasi B50 dan ambisi pembangunan 50 pabrik bioetanol nasional. Foto: Istimewa/Doc Setkab RI

​Geliat kemandirian ini tidak hanya berhenti di sektor ketahanan energi. Sektor manufaktur taktis dan industri pertahanan dalam negeri mulai menunjukkan taji yang sangat kompetitif di level global.

​Dalam waktu dekat, ekosistem otomotif dalam negeri bersiap menyambut peluncuran resmi motor listrik nasional karya anak bangsa. Langkah ini dirancang sebagai fondasi awal menuju produksi mobil nasional secara mandiri di masa depan.

​Di sisi lain, kualitas industri pertahanan lokal terbukti mampu berbicara banyak di level internasional. Senjata produksi dalam negeri terbukti tangguh dan kini menjadi andalan utama personel TNI dan Polri.

Baca Juga:Efek Domino B50 dan Minyak Dunia $73: Skenario Jitu Penyelamat APBN 2027​Presiden Prabowo Umumkan Jadwal Peluncuran Solar B50 Berbasis Sawit di PENAS XVII Gorontalo

​Ketangguhan alutsista lokal ini dibuktikan lewat torehan prestasi luar biasa di kompetisi menembak internasional. Menggunakan senapan serbu dan pistol buatan domestik, prajurit Indonesia berhasil menyabet juara umum sebanyak 12 kali berturut-turut.

​”Menang 12 kali berturut-turut dalam pertandingan mereka. Yang bikin peraturan mereka, wasitnya mereka. Karena teknik-tekniknya mereka, tapi kita menang 12 kali. Pakai senjata buatan anak-anak Indonesia, senapan serbu dari kita, pistol dari kita,” pungkas Presiden.

​Lompatan besar di sektor energi, otomotif, dan pertahanan ini menjadi modal utama bagi Indonesia untuk bertransformasi. Targetnya jelas: mengubah stigma dari sekadar negara yang ramah menjadi bangsa tangguh yang mandiri secara ekonomi dan disegani secara industri.(*)

0 Komentar