​Dobrak Keterisolasian Luwung Kencana: Kolaborasi TNI-Pemkab Cirebon Pacu Infrastruktur dan Ketahanan Pangan

Bupati-Cirebon-Imron
Bupati Cirebon Imron dan Dandim 0620 Letkol Inf Nizar Bachtiar meninjau lokasi pembukaan TMMD ke-129 di Desa Luwung Kencana, Susukan. Foto: Istimewa/Doc Pemkab Cirebon 

​Sebagai respon konkret terhadap tantangan pangan regional, program ini mengintegrasikan penanaman padi seluas satu hektare serta penanaman 500 pohon produktif. ​Langkah ini dirancang untuk memperkuat kemandirian pangan warga Luwung Kencana sekaligus menjadi benteng hijau dalam mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.

​Harapan Baru untuk Lepas dari Status Tertinggal

​Bupati Cirebon Imron menegaskan, penunjukan Desa Luwung Kencana didasarkan pada skala prioritas yang matang. Desa ini memiliki potensi besar yang selama ini terbelenggu oleh minimnya fasilitas publik.

​”TMMD bukan sekadar membangun fisik desa, melainkan metode terbaik untuk memotivasi gotong royong warga. Ini adalah strategi nyata mengentaskan kemiskinan sekaligus memperkuat ikatan batin antara TNI dan rakyat,” ujar Imron saat menginstruksikan seluruh perangkat daerah untuk mendukung penuh program ini.

Baca Juga:Pangkas Target 4 Tahun Jadi 1,5 Tahun, Mentan Amran Buktikan Ketahanan Pangan RI Bukan Sekadar AngkaUji Nyali Ketahanan Pangan 2026: Di Balik Klaim 'Aman' 324 Hari dan Bayang-bayang El Nino

​Kebahagiaan serupa terpancar dari Kuwu (Kepala Desa) Luwung Kencana, Mustofa. Bagi seluruh warganya, kehadiran TMMD adalah momentum yang sudah lama dinantikan.

​”Ini harapan baru bagi kami. Selama ini kami menghadapi keterbatasan yang luar biasa. Kami ingin Luwung Kencana segera melepas status sebagai desa tertinggal dan warganya bisa hidup lebih sejahtera,” ungkap Mustofa penuh haru.

​Gotong Royong sebagai Nyawa Pembangunan

​Poin krusial dari TMMD ke-129 bukanlah seberapa besar anggaran yang digelontorkan, melainkan hidupnya kembali ruh gotong royong di tengah modernisasi.

​Satu bulan ke depan akan menjadi pembuktian di lapangan. Ketika TNI dan rakyat bahu-membahu mencangkul, mengecor jalan, dan membenahi rumah warga, mereka sedang menulis ulang narasi bahwa pembangunan terbaik selalu dimulai dari pinggiran—dari desa yang mandiri dan berdaya.(*)

0 Komentar