Asing Serbu Global Bond Danantara, Mensesneg Ungkap 3 Jurus Pengunci Stabilitas Ekonomi

Mensesneg-Prasetyo-Hadi
Mensesneg Prasetyo Hadi memberikan keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta mengenai keberhasilan global bond Danantara dan strategi hilirisasi ekonomi nasional Indonesia. Foto: Istimewa/Doc. Setneg RI

​Pertama, ini menjadi Indikator Risiko Rendah. Ketika investor asing dari pusat finansial dunia bersedia menanamkan modal jangka panjangnya, artinya risiko investasi di Indonesia dinilai terkelola dengan sangat baik oleh pemerintah.

​Kedua, keberhasilan ini menghadirkan Substitusi Pendanaan Proyek. Aliran dana segar non-APBN dari global bond ini secara langsung memberi ruang bernapas bagi anggaran negara dalam membiayai berbagai proyek strategis nasional tanpa membebani keuangan konvensional.

​Ketiga, instrumen ini bertindak sebagai Jangkar Moneter. Aliran modal masuk (capital inflow) ini secara nyata membantu Bank Indonesia dalam menjaga kekuatan benteng nilai tukar Rupiah dari fluktuasi dan tekanan eksternal.

Baca Juga:Sikat PKS Nakal! Kementan Warning 139 Pabrik yang Mainkan Harga TBS Sawit di Masa Transisi DanantaraPrabowo Instruksikan BPI Danantara 'Eksekusi' Gunungan Sampah Kota Besar Jadi Listrik

​Karpet Merah Investasi Lewat Deregulasi Radikal

​Selain mengandalkan instrumen finansial seperti Danantara, Istana menyadari betul bahwa daya saing sejati terletak pada kemudahan berusaha (ease of doing business). Oleh karena itu, agenda deregulasi dan pemangkasan birokrasi perizinan kini dinaikkan statusnya menjadi prioritas utama demi menciptakan ekosistem ekonomi yang kompetitif.

​“Berkenaan dengan masalah deregulasi, yang berkali-kali Bapak Presiden menyampaikan bahwa kita harus terus berupaya untuk mempermudah perizinan-perizinan kita supaya iklim investasi dapat berkembang, supaya ekosistem ekonomi kita juga dapat berkembang dengan jauh lebih kompetitif,” kata Mensesneg.

​Hilirisasi dan Industrialisasi: Formula Memutus Rantai Impor

​Pilar ketiga yang menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi adalah konsistensi pada program hilirisasi dan industrialisasi. Pemerintah menegaskan tidak akan mundur dari kebijakan pembatasan ekspor bahan mentah, demi memaksimalkan pengolahan komoditas di dalam negeri.

​Prasetyo Hadi membeberkan dua dampak domino utama yang diincar pemerintah melalui strategi besar ini:

​Pertama, Substitusi Impor secara Agresif. Langkah ini ditempuh guna memangkas ketergantungan akut Indonesia terhadap barang jadi dari luar negeri, sehingga neraca perdagangan nasional dapat terus mencetak surplus dan mandiri secara logistik.

​Kedua, Multiplier Effect dan Nilai Tambah (Value Added). Dengan mengolah bahan baku secara mandiri, kekayaan alam Indonesia tidak lagi dinikmati bangsa lain dalam bentuk mentah.

Proses industrialisasi ini dipastikan mengalirkan keuntungan finansial berlipat ganda langsung ke kas negara sekaligus membuka lapangan kerja formal dalam skala masif bagi masyarakat.

0 Komentar