CIREBONINSIDER.COM– Kawasan historis Pasar Mambo yang biasanya riuh oleh transaksi kuliner malam, mendadak berubah menjadi panggung budaya yang magis. Sabtu malam (6/6/2026), ratusan pasang mata tertuju pada gerak lincah puluhan siswa sekolah dasar yang menguasai arena Car Free Night (CFN) Kabupaten Indramayu.
Bukan sekadar hiburan pelepas penat akhir pekan, helatan bertajuk Pentas Seni Malam Budaya Harmoni Bangsa ini menjadi babak baru pemanfaatan ruang publik komunal di Indramayu.
Diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, panggung jalanan ini sukses mengawinkan pelestarian tradisi dengan denyut nadi ekonomi kreatif lokal.
Baca Juga:Lucky Hakim Perluas Jalur CFN ke Pasar Mambo, Target Kebangkitan Ekonomi Indramayu Pasca LebaranBukan cuma Kejar Megah, Lucky Hakim Soroti Dua Aspek Krusial Ini di Proyek Sekolah Rakyat Indramayu
Napas Kurikulum Merdeka di Atas Aspal Pasar Mambo
Malam itu, giliran delegasi bertalenta dari SDN 3 Margadadi dan SDN 4 Margadadi yang mengambil alih perhatian. Tanpa sekat panggung yang kaku, para siswa membawakan rangkaian seni tari dan teatrikal daerah langsung di hadapan penonton yang menyemut.
Langkah ini dinilai sebagai implementasi konkret pendidikan karakter di luar kelas. Alih-alih menyekap bakat anak dalam ruang teori, jalanan CFN diubah menjadi laboratorium mental yang melatih kepercayaan diri generasi alpha Indramayu terhadap akar budayanya sendiri sejak usia dini.
Pemanfaatan ruang publik seperti CFN untuk ekspresi pelajar ini juga sejalan dengan tren nasional, di mana pemerintah daerah mulai menggeser fungsi fasilitas umum (public space) menjadi wadah edukasi interaktif dan penggerak UMKM mikro secara simultan.
Menghidupkan Kembali Marwah ‘Mambo’
Bagi masyarakat lokal, Pasar Mambo memiliki nilai historis yang kuat sebagai pusat keramaian lawas. Transformasi CFN menjadi wadah seni ini mendapat respons emosional yang sangat positif dari warga yang memadati lokasi.
Heri (56), salah seorang pengunjung setia CFN, tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat menyaksikan determinasi para penari cilik tersebut.
”Pentas seninya luar biasa, ini bukan tontonan biasa untuk anak seukuran SD. Jujur, saya terhibur dan bangga. Arena seperti CFN ini harusnya memang jadi inkubator bakat. Semoga ke depan muncul bibit-bibit seniman besar dari sini,” ujar Heri saat dimintai tanggapannya di lokasi acara.
Heri juga menekankan pentingnya konsistensi dari pihak penyelenggara. Ia berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu memperluas keterlibatan sekolah dari wilayah kecamatan lain, agar panggung ini makin kaya akan variasi seni pesisiran yang lebih spesifik ke depannya.
