Menko Airlangga memaparkan data aktual bahwa volume perdagangan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok kini telah meroket tajam hingga mencapai tiga kali lipat jika dibandingkan dengan total akumulasi perdagangan Indonesia dengan gabungan seluruh kawasan Eropa maupun Amerika Serikat.
​Kendati demikian, pemerintah menegaskan tidak ingin terjebak dalam zona nyaman sebagai eksportir bahan baku mentah. Cetak biru pembangunan ekonomi nasional kini dipaksa bermutasi melalui dua tahapan berani:
– ​Fase Pertama (Fondasi Kuat): Keberhasilan program hilirisasi nasional pada sektor nikel serta bauksit terbukti ampuh mendongkrak devisa. Dalam fase ini, Tiongkok diakui telah menjadi salah satu mitra strategis yang konsisten.
Baca Juga:Minat Investasi Cirebon Meroket 51 Ribu tapi Realisasi Mandek di Rp4 Triliun, Ada Apa dengan Birokrasi?Investasi Jabar 2025 Tembus Rp296 T, Komisi III DPRD Warning Ketimpangan Jalur Selatan dan Utara
– ​Fase Kedua (Akselerasi Masa Depan): Mengonversi sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) strategis menjadi basis manufaktur industri teknologi tinggi, pusat perakitan perangkat pintar, hingga lab pengembangan teknologi AI mutakhir.
​Pemerintah Indonesia memastikan kesiapan penuh seluruh regulasi di KEK untuk memberikan karpet merah, baik melalui insentif fiskal maupun kemudahan birokrasi, guna memicu multiplier effect (efek pengganda) yang riil di lapangan.
Target akhirnya sangat jelas: memperluas ketersediaan lapangan kerja kelas premium bagi generasi muda lokal serta mengamankan cadangan devisa negara lewat produk manufaktur berteknologi tinggi.
​Respons Hebei dan Komitmen Buka Jalur Pelayaran (Shipping Line) Baru
​Gayung bersambut dengan cepat. Wakil Gubernur Zhao Chenxin menegaskan bahwa Provinsi Hebei bukan sekadar provinsi biasa; wilayah ini merupakan salah satu motor penggerak utama modernisasi Tiongkok yang tengah mengalami pertumbuhan super pesat dalam industri berbasis smart technology dan kecerdasan buatan.
Zhao memberikan apresiasi tinggi atas langkah Kemenko Perekonomian dalam menstabilkan iklim investasi yang kondusif di Indonesia.
​Pihak Pemerintah Provinsi Hebei berkomitmen penuh untuk segera mengomunikasikan cetak biru tawaran Indonesia ini kepada konsorsium bisnis serta komunitas pengusaha di Tiongkok agar langkah investasi konkret bisa segera terealisasi dalam waktu dekat.
​Menariknya, pertemuan strategis ini ditutup dengan kesepahaman krusial di luar sektor digital, yakni Efisiensi Logistik Maritim. Kedua belah pihak sepakat melakukan eksplorasi mendalam terkait penanganan masalah jalur pelayaran (shipping line).
