CIREBONINSIDER.COM– Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Cirebon ditantang untuk keluar dari menara gading dan tidak terjebak dalam formalitas organisasi.
Sebagai wadah berkumpulnya para pemikir, akademisi, dan profesional, ISNU dituntut hadir sebagai motor penggerak peradaban yang mampu menjawab tantangan riil digitalisasi serta pesatnya industrialisasi di wilayah Cirebon saat ini.
Kritik sekaligus harapan besar tersebut mengemuka dalam Orientasi Pertama Calon Pengurus Cabang (PC) ISNU Kota Cirebon masa khidmat 2026-2029. Agenda strategis ini digelar di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cirebon, Jalan dr. Cipto Mangunkusumo, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:Titik Balik Intelektual: Rahmat Al Bayan Nakhodai ISNU Kota Cirebon, Usung Misi Transformasi SDMSinyal Kuat dari Pantura, Cirebon Raya Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU
Mengusung tema “Meneguhkan Tradisi Keilmuan, Menguatkan Kepemimpinan, dan Membangun Peradaban Kota Cirebon”, kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk mereposisi peran sarjana NU di tengah pergeseran sosial-ekonomi lokal, khususnya menyongsong akselerasi kawasan Metropolitan Rebana.
Kritik Ototoksik PCNU: Ulama Jaga Moral, Sarjana Motor Inovasi
Ketua PCNU Kota Cirebon, Dr. KH. Mustofa Rajid, M.Pd., memberikan penegasan menohok mengenai fungsi eksistensial ISNU. Menurutnya, ada beban moral dan intelektual ganda yang dipikul oleh organisasi ini karena melekatkan kata ‘Sarjana’ dan ‘Ulama’ sekaligus.
”Sarjana dan ulama memegang peran komplementer sebagai pilar kemajuan peradaban. Ulama bertindak sebagai penjaga moral dan spiritual, sedangkan sarjana adalah motor inovasi dan pembangunan ilmu pengetahuan. Sinergi keduanya menciptakan masyarakat yang cerdas, berakhlak, dan sejahtera,” ujar Kiai Mustofa.
Beliau mengingatkan agar kepengurusan yang baru terbentuk tidak pasif terhadap dinamika umat yang kian kompleks.”Jika ada organisasi yang mendefinisikan diri sebagai sarjana dan ulama seperti ISNU ini, mereka tidak bisa hanya berfungsi sebagai pemimpin ritual agama saja. Melainkan harus menjadi ilmuwan yang memajukan peradaban dan membimbing umat menuju kemaslahatan nyata,” cetusnya secara kritis.
Halau Brain Drain, Rancang Arah Gerakan Baru
Merespons tantangan tersebut, Ketua PC ISNU Kota Cirebon, Rahmat Al Bayan, M.Pd., menjelaskan bahwa orientasi ini dirancang bukan sekadar agenda seremonial belaka. Langkah ini merupakan pijakan awal untuk menyelaraskan visi dengan Pengurus Wilayah (PW) ISNU Jawa Barat.
