Belajar dari Misi Sumatra, Pemuda Cirebon Diajak Pahami Anatomi dan Sistem Taktis Kerelawanan Bencana

Mapalangit-Biru-STID-Al-Biruni-Cirebon
Suasana sharing session manajemen mitigasi bencana oleh UKM Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon. Foto: Istimewa/cireboninsider.com

​Sering kali, efektivitas penanganan bencana di daerah menjadi tidak optimal akibat adanya tumpang tindih peran antar-organisasi atau ego sektoral.

Jamal “Hendel” menggarisbawahi bahwa efektivitas penanggulangan bencana sangat bergantung pada pemahaman kolektif mengenai empat fase krusial: Tanggap Darurat, Pemulihan (Recovery), Evaluasi, dan Mitigasi.

​”Di lapangan, relawan tidak bisa bergerak sendiri-sendiri secara sporadis. Semua harus berjalan melalui sistem yang terstruktur agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan tidak menumpuk di satu titik saja,” tegas Jamal di hadapan para peserta.

Baca Juga:DPRD Kabupaten Cirebon Soroti Rapor Merah Bencana dan Nasib 193 Ribu Warga tanpa BPJSSawah Indramayu 'Dikeroyok' Beton dan Bencana, ATR/BPN: Tata Ruang Harus Jadi Panglima!

​Akurasi manajemen tersebut mencakup penguasaan struktur taktis organisasi relawan di lapangan, yang idealnya memuat pembagian kerja spesifik:

– ​Tim Perencana & Tim Daya Dukung: Mengelola basis data kebutuhan riil penyintas dan manajemen logistik.

– ​Kesekretariatan & Tim Advance: Menjadi ujung tombak untuk melakukan asesmen awal di zona terdampak.

– ​Sistem Zonasi Pos: Pengoperasian Pos Induk, Pos Transit, hingga Pos Masyarakat guna memotong jalur birokrasi koordinasi.

​Status kebencanaan—baik skala Bencana Daerah maupun Bencana Nasional—turut dibedah secara kritis. Status ini bukan sekadar label administratif, melainkan penentu kebijakan intervensi, mobilisasi sumber daya, alokasi anggaran, serta fasilitas dukungan keamanan yang diterima oleh para relawan yang bertugas di lapangan.

​Urgensi Kesiapsiagaan Aktivis Mahasiswa Cirebon

​Mengingat posisi strategis pemuda dan mahasiswa sebagai second layer atau lapis kedua penanggulangan bencana daerah, peningkatan kapasitas keilmuan menjadi sebuah kemutlakan.

​Kharis “Prusik”, Ketua UKM Mapalangit Biru STID Al Biruni, menegaskan bahwa mahasiswa pencinta alam dan aktivis kemanusiaan harus terus memperbarui kapasitas diri dari sekadar relawan tenaga menjadi relawan taktis yang berbasis pengetahuan ilmiah.

Baca Juga:Antisipasi Bencana Alam di Kota Cirebon, Pemkot Fokuskan Tiga Strategi Utama MitigasiKPK Kawal Aset Negara dan Konservasi Lingkungan di Jabar, Kunci Mitigasi Bencana Banjir dan Longsor

​”Kami ingin anggota memahami bahwa relawan bukan hanya hadir saat bencana terjadi, lalu pulang setelah mendokumentasikan kegiatan. Relawan harus siap secara keilmuan, ketahanan mental, dan kemandirian organisasi. Pengalaman empiris dari wilayah Sumatra ini menjadi pelajaran berharga bagi kesiapsiagaan kita di Cirebon,” jelas Kharis.

​Senada dengan hal itu, Syifa “Suket”, selaku perwakilan angkatan atas Mapalangit Biru, menambahkan bahwa kerja kolektif yang terukur adalah kunci utama keselamatan dan efektivitas aksi.

0 Komentar