CIREBONINSIDER.COM– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini bukan lagi sekadar isu mancanegara. Dampaknya mulai “membakar” dapur masyarakat Indonesia melalui lonjakan harga energi dan pangan yang signifikan di pekan ketiga April 2026.
Merespons kondisi kritis ini, Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak Pemerintah untuk tidak hanya menjadi penonton. Ia meminta langkah intervensi dan mitigasi ekstrem agar beban ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung oleh rakyat kecil.
Ancaman Nyata: Minyak Goreng Tembus Rp60 Ribu
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), fenomena meroketnya harga kebutuhan pokok telah menjalar ke 207 kabupaten/kota atau sekitar 57,5% wilayah Indonesia. Meski rata-rata nasional berada di angka Rp19.592 per liter, disparitas harga di daerah pelosok sangat mengkhawatirkan.
Baca Juga:Prabowo Suntik Mati PLTD, Ambisi Pangkas Impor BBM 20% dan Bangkitkan Raksasa Ekonomi BaruMenkeu Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Warga Pantura Bisa Bernapas Lega
Di Kabupaten Intan Jaya, Papua, harga minyak goreng dilaporkan menembus angka fantastis Rp60.000 per liter. Lonjakan ini dipicu oleh melambungnya harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global akibat ketidakpastian situasi dunia.
“Perubahan harga kebutuhan pokok langsung memengaruhi ruang belanja harian rumah tangga. Bagi banyak keluarga, minyak goreng bukan komoditas yang bisa ditunda pembeliannya,” tegas Puan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/4).
Paradoks Subsidi: Langka di Bawah, Mahal di Atas
Selain pangan, sektor energi menjadi pukulan kedua bagi warga. Kenaikan harga LPG non-subsidi sebesar 18% terjadi di tengah kelangkaan stok LPG subsidi di berbagai daerah.
Hal ini menciptakan kondisi di mana masyarakat yang berhak menerima subsidi terpaksa membeli produk non-subsidi dengan harga tinggi demi tetap bisa memasak.
Kondisi serupa terjadi pada BBM. Meski kenaikan saat ini menyasar sektor non-subsidi, dampak turunannya tetap terasa pada biaya logistik barang pokok.
”Di banyak daerah, masyarakat kesulitan mendapat BBM subsidi. Mereka terpaksa membeli BBM non-subsidi yang harganya naik signifikan. Ini memicu efek domino terhadap harga komoditas lainnya,” tambah Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Ujian Kualitas Kebijakan: Mitigasi Sebelum Terlambat
Puan mengingatkan bahwa konflik global tidak hanya berisiko pada lonjakan harga energi, tetapi juga memperburuk inflasi global dan ketidakpastian keuangan dunia.
