CIREBONINSIDER.COM – Memasuki gerbang abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), tantangan jam’iyyah kini bergeser dari sekadar kuantitas jemaah menuju kualitas manajerial yang presisi.
Merespons dinamika tersebut, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Cirebon resmi meluncurkan Madrasah Organisasi, sebuah kawah candradimuka intelektual untuk membedah ulang “jeroan” organisasi secara profesional.
Inisiatif yang diluncurkan secara virtual pada Jumat malam ini lahir dari kegelisahan terhadap ruang publik NU yang belakangan dinilai terjebak pada isu-isu stagnan.
Baca Juga:PCNU Cirebon Lahirkan 2 Program Unggulan: Kalender Abadi dan Sertifikasi Wakaf GratisTantangan Jauh Lebih Kompleks, Ketua PCNU Kabupaten Cirebon Tegaskan Dai Saat Ini Harus Adaptif
Program ini dirancang sebagai jembatan emas untuk memperkuat ideologi sekaligus memodernisasi tata kelola organisasi di tingkat lokal dengan standar nasional.
Merawat Isu, Membangun ‘Tertib Pikiran’
Ketua Lakpesdam PCNU Cirebon, Rosidin, menegaskan bahwa Madrasah Organisasi adalah instrumen krusial untuk memelihara pengetahuan kader pasca-pelatihan formal (PDPKNU). Ia tak ingin semangat ribuan kader menguap begitu saja tanpa arah yang terukur.
“Kami ingin menciptakan budaya debat yang masuk pada materi kekhasan NU. Targetnya jelas: terciptanya ketertiban administrasi sekaligus ketertiban pikiran sesuai koridor organisasi,” tegas Rosidin dalam sambutannya.
Program ini tidak main-main. Lakpesdam telah menyusun kurikulum komprehensif sebanyak delapan pertemuan yang akan membedah aspek fundamental, mulai dari Qonun Asasi, sistem kaderisasi, hingga legalitas struktur dan mekanisme musyawarah yang seringkali diabaikan.
Adaptasi Teknologi atau Tertinggal
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan ini. Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap AD/ART bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi pengurus di tingkat Cabang hingga MWC.
“Pengurus harus mampu beradaptasi cepat dengan teknologi dan dinamika zaman. Jika tidak, organisasi sebesar NU akan kehilangan relevansi. Madrasah ini adalah pemantik agar 1.200 lebih kader di 40 kecamatan tetap satu frekuensi,” ungkap Kiai Aziz saat membuka acara.
Modernisasi Berbasis Pesantren
Dukungan serupa datang dari Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani. Beliau memandang penguatan organisasi adalah langkah mutlak menuju entitas yang modern.
Baca Juga:Transformasi Dakwah Digital MWC NU Kapetakan: Jaga Tradisi, Sambut InovasiLDNU Jabar Gelar Madrasah Du'at Angkatan III di Cirebon, Perkuat Dakwah An-Nahdliyyah
Meski mengadopsi standar manajemen profesional, spirit yang diusung tetap berakar kuat pada tradisi pesantren.
