CIREBONINSIDER.COM – Pekan Sastra Cirebon 2026 resmi ditutup pada 6 November 2026 di Museum Topeng Balai Kota Cirebon. Mengusung tema “Megatruh: Keterlepasan dan Transformasi Sastra Lisan”, kegiatan yang berlangsung sejak 1 November ini menghadirkan rangkaian diskusi, pameran, bedah buku, dan pertunjukan sastra. Acara penutupan dihadiri Wali Kota Cirebon, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan.
Rangkaian kegiatan penutupan diawali dengan bedah buku Asmarandana: Sajak-Sajak Cinta Seorang Pengembara, karya Fathan Mubarak. Buku tersebut dibahas bersama Jamaludin Mohammad dan Wahyudi Yuli. Diskusi mengangkat berbagai aspek kepenulisan dan estetika puisi dalam antologi tersebut, termasuk pengolahan pengalaman, bahasa, dan tema cinta sebagai bagian dari pergulatan manusia dengan kehidupan.
Agenda berikutnya adalah diskusi sastra dan lokalitas yang menghadirkan Zen Hae, Ahda Imran, dan Nissa Rengganis. Diskusi ini membicarakan hubungan antara karya sastra, pengalaman lokal, identitas, dan perubahan sosial budaya. Lokalitas ditempatkan sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan yang terus dapat ditafsirkan melalui penciptaan sastra. Dalam diskusi, lokalitas tidak tertuju pada yang geografis, melainkan pada wawasan, cara berpikir, dan lanskap batin.
Baca Juga:Stafsus Menteri Kebudayaan Perkuat Ekosistem Sastra Indonesia dari Komunitas hingga Industri Perbukuan DuniaDari Pekan Sastra Cirebon 2025, Dorong Ruang Kreatif Tumbuh
Pada malam hari, rangkaian penutupan dilanjutkan dengan Malam Puisi. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan musisi Cheppy Irawan, Amparan Jati, dan Hening yang menyuguhkan musik klasik Cirebon. Pertunjukan musik berpadu dengan pembacaan puisi berlangsung memukau. Perpaduan tersebut menghadirkan suasana artistik yang mempertemukan tradisi musik lokal dengan ekspresi sastra.
Sebelumnya, Pekan Sastra Cirebon 2026 menghadirkan tiga agenda utama, yakni Diskusi Megatruh, Diskusi Alih Wahana, dan Pameran Naskah Kuno. Dalam Diskusi Megatruh, Fathan Mubarak, penyair sekaligus panitia acara, menjelaskan bahwa Megatruh adalah metafora keterlepasan dan penemuan medium-medium baru. Secara literer, Megatruh merujuk pada terlepasnya ruh dari tubuh. Gagasan tersebut digunakan untuk membaca perjalanan suatu ekspresi budaya ketika meninggalkan bentuk asal dan menjelma melalui medium yang berbeda.
Diskusi Alih Wahana mengangkat transformasi tradisi dalam penciptaan seni, terutama proses pengolahan warisan budaya ke dalam bentuk dan medium baru. Sementara itu, Pameran Naskah Kuno memperkenalkan manuskrip sebagai sumber pengetahuan, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat.
