​Eskalasi Bencana Kuningan Meningkat, Bupati Dian Pacu 1 Persen Relawan Militan

Bupati-Kuningan-Dian-Rachmat-Yanuar
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. memberikan arahan saat membuka Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana bagi Pegawai BPBD dan Relawan di kawasan Wisata Talaga Surian, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Jumat (25/9/2026). Foto: Doc Pemkab Kuningan

CIREBONINSIDER.COM – Peta ancaman bencana di Kabupaten Kuningan perlahan bergeser. Musibah banjir yang dahulu tergolong langka, kini mulai rutin mengintai sejumlah wilayah. Di saat bersamaan, risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lereng Gunung Ciremai terus memuncak seiring musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.

​Menghadapi eskalasi ancaman yang semakin kompleks, Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan penanggulangan bencana tak bisa lagi membebankan anggaran daerah semata. Kunci utamanya ada pada kesiapsiagaan warga dan militansi relawan di lapangan.

​Hal tersebut ditegaskan Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., saat membuka Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana di kawasan Wisata Talaga Surian, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga:​Cirebon Kunci Status Siaga Darurat 92 Hari, Bayang-Bayang Krisis Air dan Karhutla MengintaiTanggap Bencana Kekeringan, Gerakan NU Peduli Distribusikan Air Bersih untuk Warga Dukuh

​“Kita tidak sedang bicara potensi, tapi ancaman dan tantangan nyata. Persoalan ini bukan cuma tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama,” ujar Dian di hadapan 160 peserta yang terdiri dari jajaran BPBD, Damkar, hingga aktivis komunitas.

​Karhutla Ciremai dan Pergeseran Pola Bencana

​Kuningan berada di posisi geografis yang rentan terhadap ancaman ganda. Saat musim kemarau, kekeringan dan titik api di lereng Gunung Ciremai menjadi ancaman utama yang membakar vegetasi dan lahan warga.

​Bupati Dian memberikan peringatan keras terkait potensi unsur kesengajaan dalam musibah kebakaran hutan ini.

​“Jika ada unsur kesengajaan yang merembet dan merugikan kawasan luas, itu sudah masuk ranah pidana. Aparat penegak hukum akan mengambil tindakan tegas,” tegasnya.

​Sebaliknya, ketika musim penghujan tiba, kewaspadaan bergeser ke bahaya longsor, pergerakan tanah, hingga banjir. Munculnya genangan dan banjir di area yang dulunya aman menandakan adanya degradasi lingkungan yang butuh penanganan serius dari hulu ke hilir.

​Formula ‘1 Persen Militan’ di Tengah Keterbatasan

​Di tengah keterbatasan sarana, prasarana, serta alokasi anggaran, Pemkab Kuningan memilih fokus pada kekuatan berbasis komunitas (Community-Based Disaster Risk Management).

​Dengan populasi Kuningan yang mencapai sekitar 1,2 juta jiwa, pelibatan aktif masyarakat menjadi aset paling berharga.

Baca Juga:Belajar dari Misi Sumatra, Pemuda Cirebon Diajak Pahami Anatomi dan Sistem Taktis Kerelawanan BencanaKPK Kawal Aset Negara dan Konservasi Lingkungan di Jabar, Kunci Mitigasi Bencana Banjir dan Longsor

​“Dari 1,2 juta penduduk Kuningan, bayangkan jika satu persen saja yang militan dan betul-betul cinta pada gerakan pemulihan lingkungan. Dampaknya akan sangat luar biasa untuk daerah ini,” tutur Dian.

0 Komentar