Laporan tenaga kerja AS pekan lalu sempat menahan kejatuhan dolar karena memperbesar peluang kenaikan suku bunga acuan. Namun, dorongan tersebut belum cukup kuat tanpa konfirmasi data inflasi.
”Laporan tenaga kerja AS mendukung dolar AS secara terbatas, tetapi belum cukup untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan,” catat tim analisis OCBC dalam riset terbarunya.
Bayang-Bayang Selat Hormuz
Di luar rilis data ekonomi, geopolitik Timur Tengah tetap menjadi variabel liar. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz terus menjaga harga minyak mentah di level tinggi.
Baca Juga:Pemerintah Siapkan Insentif 'Sakti' untuk Tarik Triliunan Rupiah Dana Dolar RI di Luar NegeriKeruk Devisa Triliunan Rupiah, Bagaimana Sambal Lokal Menjelma Jadi Mesin Pengeduk Pasar Global?
Jika harga energi global terus terkerek, tekanan inflasi di AS berpotensi naik kembali. Skenario ini akan memaksa The Fed mempertahankan sikap hawkish, yang sewaktu-waktu bisa membalikkan arah dan memicu reli susulan bagi dolar AS.
Untuk saat ini, pasar Asia masih memegang kendali atas pergerakan mata uang.(*)
