Harta Karun dari Kediri, Sulap Limbah Bonggol Jagung Tembus Pasar Jepang

Olahan-Gilingan-Bonggol-Jagung
Olahan gilingan bonggol jagung siap ekspor yang sudah dikemas padat untuk pengiriman ke Jepang. Foto: Istimewa

CIREBONINSIDER.COM— Sampah bagi sebagian orang, harta karun bagi yang paham peluangnya. Ungkapan ini pas menggambarkan nasib bonggol jagung di Kediri, Jawa Timur. Sisa panen yang dulu membusuk atau dibakar begitu saja, kini resmi bertransformasi jadi komoditas ekspor bernilai fantastis.

​Tujuannya tak tanggung-tanggung: Jepang. Negeri Sakura berani mengimpor puluhan ton olahan tongkol jagung ini demi memenuhi kebutuhan media tanam jamur premium dan campuran pakan ternak berkualitas.

​Putar Otak Sulap Limbah Jadi Cuan

​Langkah berani ini dipelopori oleh pengusaha lokal asal Kediri. Melihat melimpahnya sisa panen jagung di daerahnya, ia menangkap potensi bisnis yang belum banyak dilirik orang.

​Proses pengolahannya sederhana namun butuh ketelitian tinggi:

Baca Juga:Ekonomi Tumbuh 5,45 Persen, Jepang Gelontorkan Investasi Raksasa di IndonesiaSiasat Indramayu Putus Cengkeraman Calo, Lucky Hakim Gembleng Ratusan Calon Pekerja Migran Tembus Pasar Jepang

– ​Pengeringan: Bonggol jagung dijemur hingga kadar airnya turun drastis agar tidak berjamur saat pengiriman.

– ​Penggilingan: Sisa panen dihancurkan menjadi pecahan kecil sesuai spesifikasi pembeli di Jepang.

– ​Pengepresan Padat: Hasil gilingan dipres secara maksimal lalu dikemas rapi agar muat banyak dalam kontainer kapal.

​Pasar Jepang ternyata sangat haus akan komoditas ini. Dalam setahun, pengiriman bisa berjalan rutin hingga 8 kali. Sekali jalan, volume ekspornya menembus 60 sampai 70 ton.

​Bahkan pada Januari 2024 lalu, tercatat sebanyak 66 ton olahan bonggol jagung meluncur mulus ke Jepang dengan nilai transaksi mencapai Rp 250 juta.

​Syarat Ketat Tembus Standar Jepang

​Bisa menembus pasar Negeri Sakura jelas bukan perkara mudah. Setiap pengiriman wajib melewati pemeriksaan ekstra ketat dari Badan Karantina Indonesia.

​Petugas karantina menguji sampel secara cermat untuk memastikan produk bersih dari organisme pengganggu tumbuhan, serangga penggerek, maupun kontaminasi racun. Setelah dinyatakan aman dan mengantongi sertifikat Phytosanitary, barulah produk bernilai ratusan juta ini diizinkan berlayar.

Baca Juga:​Bukan cuma Busa, Sabun Indonesia Invasi Pasar Global, Cetak Ekspor Rp1,4 TriliunTembus Pasar Jepang dan Singapura, Mentan Amran Lepas Ekspor 545 Ton Unggas: Bukti RI Swasembada!

​Gebrakan dari Kediri ini membuktikan satu hal: dengan sedikit kreativitas dan standar mutu yang tepat, limbah pertanian paling tak dilirik sekalipun bisa disulap jadi komoditas ekspor kelas dunia.(*)

0 Komentar