Restorasi Spirit Gus Dur: Langkah Perdana Gus Kikin Menata Arah Baru PBNU

Ketum-PBNU-KH-Abdul-Hakim-Mafudz-Gus-Kikin
​Ketua Umum PBNU Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) saat mengunjungi Pojok Gus Dur di Kantor PBNU Jakarta. Foto Istimewa/Doc NU 

CIREBONINSIDER.COM— Jumat pagi, 4 September 2026, suasana Kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, berdenyut beda.

​Ketua Umum PBNU terpilih masa khidmah 2026–2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, hadir untuk pertama kalinya usai resmi dikukuhkan pada akhir Agustus lalu.

​Bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ada narasi spiritual dan historis yang sangat kuat dalam langkah perdananya ini.

Baca Juga:Ujian Pertama Gus Kikin, Mampukah Kabinet Baru PBNU Lepas dari Bayang Politik?PBNU Abad Kedua, Gus Kikin Hidupkan Kembali Qanun Asasi Utuh Karya Mbah Hasyim

​Rekat Nasab dan Jejak Kebangsaan

​Sebelum menduduki ruang kerja barunya, Pengasuh Pesantren Tebuireng itu memilih melangkah ke Pojok Gus Dur. Didampingi sejumlah tokoh seperti H Gudfan Arif Ghofur dan KH Samsul Ma’arif, perbincangan hangat tercipta di ruang literasi tersebut.

​Pojok Gus Dur bukan sekadar ruang arsip atau sudut baca. Tempat ini adalah ruang kerja asli KH Abdurrahman Wahid saat menjabat Ketua Umum PBNU tiga periode (1984–1999) hingga akhir hayatnya.

​Kunjungan ini menegaskan kembali kedekatan nasab dan nilai kepemimpinan. Baik Gus Kikin maupun Gus Dur merupakan cicit dari pendiri NU, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

​Langkah Gus Kikin menyambangi ruangan bersejarah itu seolah mengukuhkan kembali spirit keterbukaan, keberanian ideologis, dan pemikiran inklusif yang dulu digaungkan Gus Dur dari gedung yang sama.

​Tradisi Istikharah dalam Menata Organisasi

​Usai dikukuhkan pada 31 Agustus 2026, agenda paling mendesak bagi PBNU adalah membentuk tim formatur kepengurusan. Gus Kikin menegaskan, organisasi tidak bisa berjalan maksimal tanpa jajaran pengurus yang lengkap.

​”Pengurus itu yang belum ada, jadi belum bisa ngapa-ngapain. Hari ini ramah-tamah saja. Mudah-mudahan tidak lama lagi supaya kita bisa segera beraktivitas dan berkhidmah kepada masyarakat,” tegas Gus Kikin.

​Menariknya, dalam menentukan figur-figur penopang PBNU lima tahun ke depan, Gus Kikin memilih tidak hanya bersandar pada kalkulasi rasional. Tradisi khas NU tetap diposisikan sebagai fondasi utama, yakni istikharah.

Baca Juga:Duet Jombang Pimpin Abad Kedua NU: Kiai Miftachul Akhyar Rais Aam, Gus Kikin Ketum PBNU 2026–2031Muktamar Ke-35 NU Akhiri Sistem Voting Langsung, AHWA Tentukan Ketum PBNU

​”Tradisi NU itu adalah istikharah. Itu kita lakukan agar mendapat petunjuk siapa yang cocok dan memberikan manfaat bagi masyarakat, serta mendapat ridha Allah SWT,” tambahnya.

​Langkah Cepat Sinergi Ekonomi Syariah

0 Komentar