Ketua HARPI Melati Kota Cirebon, Wiwit Widyawati, menambahkan bahwa partisipasi puluhan perias ini adalah langkah awal mengarusutamakan perawatan alami di tengah gempuran perawatan kimia modern.
”Kami berkomitmen mendukung pelestarian budaya melalui pemanfaatan bahan alami. Cantik luar dan dalam adalah ciri khas perawatan Nusantara,” kata Wiwit.
Perspektif Publik: Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Keamanan Kimia
Meski potensi ekonomi dari tradisi jamu pengantin sangat menjanjikan, tantangan integrasi di lapangan tetap ada. Para pakar kesehatan mengimbau pentingnya standar hibrida—menggabungkan keautentikan resep lokal dengan higienitas serta keamanan uji klinis.
Baca Juga:Ganti Takbir Keliling dengan Festival Dulag Istimewa di Gedung Sate, KDM: Di Desa Saja Beduk Sudah HilangCirebon Katon Festival 2025: Jurus Pemkab Cirebon Jaga Nilai Sakral Tradisi di Tengah Gempuran Komersialisasi
Sinergi antara entitas budaya Keraton, Pemerintah Kota Cirebon melalui Disbudpar, HARPI Melati, dan produsen obat tradisional seperti Mustika Ratu menjadi kunci utama. Langkah ini memastikan tradisi jamu pengantin Cirebon tidak berhenti sebagai seremoni workshop semata, melainkan menjelma menjadi identitas industri beauty & wellness lokal yang kompetitif di tingkat nasional.(*)
