– 753 halte yang tersebar di titik-titik strategis (34 halte di jalur utama dan 719 halte di area pendukung).
Sistem ini ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2027. Soal kepastian waktu, bus dirancang tiba setiap 7 menit sekali pada jam sibuk dan maksimal 15 menit pada jam normal.
Konektivitas Udara: Reaktivasi Husein & Peran Kertajati
Penataan transportasi ini ternyata tak cuma berlangsung di darat. Sektor penerbangan di Bandung Raya pun ikut ditata ulang agar saling melengkapi.
Baca Juga:Cirebon Amankan Kuota Ahli Transportasi, Jalur Ikatan Dinas Kemenhub Resmi DibukaAkselerasi Transportasi Jabar: KAI-Pemprov Teken PKS, Luncurkan Kereta Kilat Pajajaran dan Wisata Jaka Lalana
Mulai Agustus 2026, Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung dipastikan kembali melayani penerbangan komersial domestik dan bersiap membuka kembali rute internasional. Bandara ini difokuskan untuk melayani penumpang umum, pebisnis, dan wisatawan yang ingin langsung tiba di pusat kota.
Sementara itu, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka tetap memegang peran vital sebagai hub utama penerbangan ibadah Haji, Umrah, serta layanan kargo skala besar.
Pekerjaan Rumah: Keamanan dan Fasilitas Jalan
Hadirnya bus baru dan sistem terintegrasi tentu belum cukup jika tidak ditopang oleh fasilitas pendukung yang memadai di lapangan. Lonjakan jumlah penumpang di stasiun dan halte perlu diimbangi dengan sistem keamanan yang ketat, baik melalui petugas maupun pengawasan kamera CCTV.
Akses pejalan kaki menuju lokasi transit juga menjadi perhatian utama. Trotoar yang layak, fasilitas ramah disabilitas, serta penerangan jalan yang terang sangat dibutuhkan agar warga merasa aman dan nyaman berpindah moda transportasi.
Pada akhirnya, modernisasi transportasi bukan sekadar menghadirkan kendaraan baru yang bagus, melainkan juga membangun budaya publik yang lebih tertib, bersih, dan aman bagi semua warga.(*)
