– WTI di Nymex turun US16,11 menjadi US82,41 per barel.
Proyeksi Juli: Ujian Ketahanan Energi Nasional
Tren penurunan ini diprediksi belum akan berhenti dalam waktu dekat. Pemerintah bahkan memproyeksikan harga ICP untuk periode Juli 2026 akan jatuh lebih dalam, yakni berada di kisaran US67 hingga US71 per barel.
Bagi Indonesia yang berstatus net importir minyak, kejatuhan harga ICP ini bisa menjadi berkah tersembunyi. Angka yang mendekati asumsi makro ini berpotensi meringankan beban fiskal APBN dalam mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi, khususnya untuk BBM.
Meski demikian, pemerintah tidak ingin gegabah. Risiko makro tetap dipantau ketat, terutama ancaman eskalasi geopolitik mendadak yang sewaktu-waktu bisa kembali menyumbat pasokan dan memicu lonjakan harga baru.
Baca Juga:Siaga Selat Hormuz! Manuver Catur Prabowo Jadikan Urea Indonesia Rebutan GlobalKapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Presiden Prabowo Didesak Lobi Langsung Iran
”Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik,” tegas Laode Sulaeman.
Pihaknya memastikan bahwa formula perhitungan ICP akan tetap dilakukan secara transparan, adil, dan mencerminkan dinamika pasar riil agar tetap akuntabel bagi keuangan negara serta iklim investasi hulu migas.(*)
