Bagi keluarga Darto, datangnya musim angin kencang dan hujan lebat di kawasan pesisir Sukra bukan lagi berkah, melainkan alarm bahaya yang mengancam keselamatan jiwa. Rumah tersebut sewaktu-waktu bisa rata dengan tanah jika diterjang cuaca buruk.
“Rumah Pak Darto sudah miring, retak, dan berisiko roboh. Mudah-mudahan proses pembangunannya dapat segera dilakukan,” ujar Bupati Lucky, memberikan instruksi tegas agar eksekusi fisik di lapangan tidak ditunda-tunda.
Menariknya, penanganan kasus Wastini memicu lahirnya social capital (modal sosial) yang luar biasa di tingkat akar rumput. Karena lahan asli milik Wastini telah habis, seorang warga setempat secara sukarela meminjamkan tanahnya untuk dijadikan lokasi pembangunan rumah baru.
Baca Juga:Imbas TKD Dipangkas Rp200 M, Program Rutilahu Kota Cirebon Mandek: Kas Daerah Prioritaskan Gaji ASN?DPRKP Fokuskan Bantuan Pemprov untuk Program Rutilahu, Tata Kawasan Kumuh di Kota Cirebon
Solidaritas lokal inilah yang kemudian dikunci oleh pemerintah desa dan kecamatan yang berkomitmen melakukan pengawasan penuh hingga bangunan selesai.
Menakar Efektivitas Program Rutilahu Indramayu
Secara indikator makro, baik Wastini maupun Darto dinilai sangat valid dan memenuhi kriteria penerima bantuan karena berada dalam jerat kemiskinan serta kondisi hunian yang membahayakan keselamatan. Namun, jika dibedah secara kritis, tantangan riil pasca-penyerahan bantuan justru baru dimulai.
Dana stimulan sebesar Rp20 juta per rumah tentu membutuhkan manajemen material yang sangat efisien. Di sinilah peran krusial pemerintah desa, kecamatan, dan swadaya masyarakat diuji untuk bergotong-royong menutup sisa kebutuhan konstruksi agar rumah yang dibangun benar-benar layak, sehat, dan permanen.
Langkah taktis Pemkab Indramayu menggandeng BAZNAS terbukti menjadi jalan pintas yang legal dan efektif untuk memotong birokrasi anggaran daerah yang kerap memakan waktu berbulan-bulan.
Model intervensi cepat seperti ini diharapkan mampu mereduksi angka kemiskinan ekstrem di Indramayu secara signifikan, sekaligus mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui sektor peningkatan kualitas hunian masyarakat.(*)
