Gagasan Radikal: Gaji Bulanan Maestro dan Pendirian ‘Paguron’
Menyikapi krisis regenerasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak ingin sekadar memberikan janji normatif. KDM melontarkan strategi radikal dengan memosisikan para maestro pengrajin layaknya “dosen atau guru besar” kebudayaan yang berhak mendapatkan jaminan kesejahteraan dari negara.
Langkah konkret pertama yang digagas adalah pemberian insentif dan gaji bulanan. Pemerintah daerah diinstruksikan untuk mendata para maestro pengrajin tradisional yang tersisa.
Mereka akan diberikan gaji bulanan yang layak langsung dari APBD, dengan syarat wajib mentransfer keahliannya kepada generasi muda melalui jalur pendidikan nonformal.
Baca Juga:Jabar Raih Penghargaan Stunting 2026, Dedi Mulyadi: Kelas Menengah Jangan Belanja di Ritel Modern Terus!Bukan Klenik, Dedi Mulyadi Jabar Jadikan Sejarah Batutulis dan Mahkota Binokasih Kompas Tata Ruang Baru
Langkah ini diperkuat dengan aktivasi Paguron Tradisional di berbagai daerah. Pemerintah menggagas pembentukan pusat pembelajaran khusus yang hidup di tengah masyarakat, seperti Paguron Batik, Paguron Anyaman, Paguron Ukir, hingga Paguron Lukis.
Tempat itu dirancang bukan sebagai kelas formal yang kaku, melainkan ruang inkubasi budaya yang mampu melahirkan generasi baru pengrajin yang kompetitif.
”Saya sudah minta kumpulkan para pembatik dan pengrajin. Beri mereka gaji setiap bulan yang cukup untuk mengajarkan keahliannya. Baik itu ukiran, lukisan, masakan tradisional, sampai anyaman, agar rantai keahlian ini tidak terputus,” tegas KDM.
Pemerataan Ekonomi: Membawa Sunda Karsa Fest Keluar dari Bandung
Selain isu regenerasi, catatan kritis lain yang dibawa KDM adalah soal lokalisasi acara. Selama ini, pameran berskala besar kerap berpusat di Kota Bandung sebagai ibu kota provinsi. Dampaknya, gaung ekonomi kreatif kurang terdistribusi merata ke 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
KDM mengusulkan agar BI dan Dekranasda mengubah strategi dengan menggelar Sunda Karsa Fest secara bergilir di berbagai daerah.
Dengan membawa pasar, investor, dan atensi media ke wilayah penyangga, stimulasi pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat lokal akan jauh lebih terasa dampaknya bagi pengrajin kecil yang selama ini kesulitan akses transportasi maupun modal untuk menembus pasar kota besar.
Tantangan nyata kini berada di pundak Dekranasda dan para pemangku kepentingan. Mengubah UMKM menjadi penopang utama ekonomi Jabar tidak bisa hanya diselesaikan dengan mempercantik kemasan digital di hilir, melainkan dengan menyelamatkan kehidupan para pengrajin di hulu. (*)
