Dilema Gas Industri Jawa: Jurus 'Mini LNG' Tuban Pangkas Impor dan Amankan Pasokan Pabrik

Menteri-ESDM-Bahlil-Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat meresmikan fasilitas Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban Jawa Timur untuk ketahanan energi nasional. Foto: Istimewa/ Doc Kemenn ESDM

Bersamaan dengan itu, mengalir pula LPG sebesar 9.800 ton per tahun untuk substitusi pasar domestik, gas kondensat sebanyak 19.600 barel per tahun untuk bahan baku industri kimia, serta proyeksi CO2 Liquid (cair) yang menyentuh 21.000 ton per tahun untuk kebutuhan industri modern.

​”Saya melihat ini adalah karya nyata. Ada LNG, LPG, kondensat, dan CNG juga. Ini bentuk konkret bauran energi kita untuk mengurangi impor LPG secara signifikan,” tegas Bahlil.

​Peringatan Keras Bahlil: Kunci Pasokan hingga 2035!

​Bahan baku kilang mini ini dipasok langsung dari Lapangan Sumber milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Tuban East Java dengan komitmen volume hingga 15 MMSCFD (Juta Standar Kaki Kubik per Hari). Kontrak pasokan vital ini telah dikunci secara legal hingga tahun 2035 mendatang.

Baca Juga:Bahlil Kunci Skema 'Gross Split' Hanya untuk Migas, Pengusaha Minerba Bernapas LegaBahlil Semprot Makelar Migas di IPA Convex 2026, Garansi 8 WK Baru Bebas Nego Belakang Meja!

​Sadar bahwa kepastian regulasi adalah nyawa dari investasi sektor hulu-hilir migas, Menteri ESDM memberikan peringatan keras kepada Pertamina selaku pemasok agar menjaga stabilitas aliran gas tanpa kompromi. Investor tidak boleh dibiarkan merugi akibat ego sektoral atau kendala teknis yang semestinya bisa diantisipasi.

​”Tolong di-support, ya. Jangan sampai baru berjalan dua tahun lalu pasokannya macet. Tidak boleh begitu. Orang sudah investasi besar di sini. Pegang teguh kontrak itu, jangan diubah-ubah di tengah jalan agar mereka punya kepastian dalam berinvestasi ke depan,” cetus Bahlil dengan nada tinggi dan tegas.

​Dampak Nyata: Lebih Murah, Cepat, dan Minim Emisi

​Langkah taktis melalui skema small-scale LNG seperti di Tuban ini langsung membawa dampak domino yang instan bagi struktur ekonomi dan ekologi nasional.

– ​Pertama, fasilitas ini mengembalikan daya saing industri dengan memberikan kepastian harga bahan baku yang jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan energi impor.

– Kedua, penggunaan armada truk distribusi darat (trucking) berhasil memangkas biaya mahal pembangunan infrastruktur pipa yang memakan waktu bertahun-tahun.

– Ketiga, inovasi ini mempercepat transisi hijau dengan memaksa sektor manufaktur bermigrasi dari bahan bakar berbasis fosil yang kotor menuju gas bumi yang jauh lebih rendah emisi.

​Kehadiran Mini LNG Plant PT SAG ini membuktikan bahwa kemandirian energi tidak harus selalu menunggu megaproyek bernilai miliaran dolar selesai dibangun.

0 Komentar