Birokrasi Pupuk Resmi Dipotong Kompas, tapi Mengapa Lahan Pertanian Justru Menghadapi Alarm Bahaya?

Komisi-IV-DPR-RI-Tinjau-PT-Pupuk-Kujang
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto dan tim Panja saat meninjau kesiapan stok serta distribusi pupuk di PT Pupuk Kujang Karawang, Juni 2026. Foto: Istimewa/ Doc DPR RI

Indonesia, menurut Firman, harus segera membaca tren global. Negara-negara produsen pangan dunia kini mulai bergerak meninggalkan ketergantungan kimiawi.

​”Kalau kita lihat tren dunia ini sudah mulai bergeser kepada pupuk organik, terutama untuk kebutuhan pangan pokok. Vietnam sudah mulai dan di beberapa negara Eropa juga sudah mulai menggunakan pupuk organik,” ungkap Firman.

​Politisi Fraksi Partai Golkar ini mengingatkan bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia sudah terlalu lelah dan jenuh akibat eksploitasi pupuk kimia selama puluhan tahun. Pemulihan lahan melalui penguatan basis pupuk organik bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan sebuah urgensi nasional demi menjaga produktivitas yang berkelanjutan.

Baca Juga:Kerugian Petani Tembus Rp3,3 Triliun, Mentan Amran Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Nakal!Ekspor Urea Rp7 Triliun ke Australia, Harga Pupuk Subsidi Dalam Negeri Justru Anjlok 20%!

​Tiga Keuntungan Strategis Transisi Organik

​Jika kapasitas produksi dan serapan pupuk organik nasional ditingkatkan, ada tiga dampak besar yang akan langsung dirasakan oleh sektor pertanian kita.

​Pertama, terjadinya pemulihan kualitas tanah yang kritis akibat kejenuhan zat kimia. Kedua, volume dan kualitas hasil panen akan meningkat secara alami dan lebih sehat untuk dikonsumsi. Ketiga, langkah ini secara otomatis akan menghemat kas negara dari beban subsidi pupuk urea yang selama ini terus membengkak.

​Menantang Industri Pupuk Nasional

​Komisi IV DPR RI berharap PT Pupuk Kujang, sebagai salah satu pilar produsen pupuk di bawah naungan Pupuk Indonesia, mampu berdiri di garda terdepan dalam menerjemahkan tantangan ini. Industri pupuk tidak boleh hanya fokus pada aspek produksi dan bisnis logistik semata, melainkan wajib menjadi motor edukasi transisi hijau bagi petani.

​Menghadapi pasar global yang kian menuntut standarisasi pangan ramah lingkungan (sustainability), Indonesia kini berkejaran dengan waktu.

Penyederhanaan menjadi satu pintu adalah fondasi awal yang baik untuk ketahanan pangan jangka pendek. Namun, investasi pada pupuk organik adalah jaminan mutlak agar bumi pertiwi tetap subur dan mampu memberi makan generasi masa depan.(*)

0 Komentar