Strategi Hilirisasi Bapperida Indramayu: Lewat Kajian Ilmiah BRIN, 3 Komoditas Unggulan Ini Bakal Naik Kelas

Bapperida-Indramayu-Bersama-BRIN-danPNJ
Tim Bapperida Indramayu bersama BRIN dan PNJ saat melakukan kunjungan lapangan ke sentra UMKM mangga gedong gincu dan sektor perikanan Karangsong untuk kajian hilirisasi daerah. Foto Humas Pemkab Indramayu

CIREBONINSIDER.COM – Kabupaten Indramayu tampaknya mulai jengah hanya dikenal sebagai lumbung pangan yang menjual bahan mentah dengan harga fluktuatif.

Bergerak cepat memutus rantai tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Indramayu resmi menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

​Kolaborasi lintas sektor ini bukan sekadar agenda seremonial di atas meja. Selama dua hari penuh, tim gabungan langsung menerjunkan diri ke titik-titik krusial ekonomi kreatif dan sentra pangan Indramayu guna memetakan jalan pintas menuju hilirisasi industri lokal yang mandiri.

Baca Juga:Ganti Sawit Jadi Gedong Gincu, Bupati Imron Pastikan Lahan 6,5 Hektare di Pasaleman DialihkanMangga Gedong Gincu Indramayu Semakin Mendunia, Bupati Lucky: Permintaan Meningkat, Petani Sejahtera

​Tiga Komoditas Lolos Validasi Ilmiah Metode LQ

​Langkah strategis ini berpijak pada data yang valid. Dalam forum koordinasi yang digelar di Kantor Bapperida Indramayu, Tim BRIN memaparkan hasil analisis makroekonomi menggunakan metode Location Quotient (LQ), Shift Share, dan Kajian Analisis Klassen.

​Hasilnya, tiga komoditas ini resmi didapuk sebagai produk unggulan mutlak Kabupaten Indramayu. Karena memiliki daya saing komparatif dan kompetitif yang sangat tinggi. Ketiganya berupa komoditas Beras (Sektor Ketahanan Pangan),​ Mangga (Sektor Hortikultura), ​Ikan dan Produk Perikanan (Sektor Maritim)

​Analis Kebijakan Ahli Muda BRIN, Robbi Prayudha, menegaskan bahwa melimpahnya bahan baku di Indramayu selama ini belum diimbangi dengan ekosistem pasca-panen yang mumpuni.

​”Ketiga komoditas ini punya potensi pasar yang luar biasa besar. Kuncinya sekarang ada pada penguatan hilirisasi dan bagaimana kita menyuntikkan sentuhan inovasi teknologi tepat guna langsung di tingkat daerah,” ujar Robbi dalam diskusi tersebut.

​Menyisir Realita Lapangan: Dari Gadong Gincu hingga Karangsong

​Dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RIDA) Bapperida Indramayu, Titan Listiani, tim gabungan langsung melakukan validasi lapangan untuk melihat kesiapan infrastruktur dan mentalitas pelaku usaha lokal.

​Pada hari pertama, rombongan menyisir Desa Krasak yang dikenal sebagai episentrum mangga gedong gincu. Tak hanya melihat budidaya pohonnya, tim membedah proses hilirisasi skala UMKM kreatif, seperti Nastar Mangga Mimide dan sentra olahan mangga legendaris Hj. Kasturi.

Kunjungan ke Desa Ekonomi Kreatif (Ekraf) ini menjadi bukti bahwa buah musiman seperti mangga sangat bisa diselamatkan dari ancaman anjloknya harga saat panen raya jika diolah secara cerdas.

0 Komentar