Legislator dari Fraksi PKS ini menambahkan, kota seperti Surakarta memang sukses menembus tiga besar Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Jawa Tengah berdampingan dengan Salatiga dan Semarang. Namun, BPS diingatkan jangan sampai terlena oleh angka agregat IPM atau Gini Ratio.
Menurut Fikri, pekerjaan rumah terbesar BPS adalah mendeteksi secara dini kelompok masyarakat paling rentan: warga disabilitas, miskin ekstrem, dan kaum dhuafa.
Sistem informasi statistik daerah dituntut bermigrasi total dari model monografi statis di papan pengumuman kelurahan, menuju sistem digital dinamis yang accessible dan bisa dipantau publik secara real-time hingga tingkat RT.
Baca Juga:Tips Atasi GALAT Login Akun Sobat BPS, untuk Daftar Petugas Sensus Ekonomi 2026Link Pendaftaran Rekrutmen Petugas Sensus Ekonomi 2026, Berikut Cara dan Tahapannya Masih Ada Waktu
Psikologis Pajak dan Etika Ketuk Pintu Petanas
Menembus level akar rumput, tantangan riil yang dihadapi petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar urusan teknis, melainkan resistensi psikologis masyarakat.
Banyak pelaku usaha mikro dan warga yang cenderung menyembunyikan data pendapatan asli karena khawatir informasi tersebut akan dicantolkan dengan penarikan pajak.
Esti Wijayati mendesak BPS memasifkan edukasi untuk meruntuhkan ketakutan tersebut, sekaligus memperketat pembekalan etika komunikasi bagi para pencacah lapangan (mitra sensus) yang baru direkrut.
”Hal sederhana, untuk bisa kulo nuwun, menyapa warga itu bagaimana? Jangan datang bawa surat tugas dengan cara yang kaku atau angkuh, orang pasti enggan kasih data. Tunjukkan identitas resmi, jangan ditakut-takuti, tapi gunakan pendekatan yang manusiawi,” jelas Esti.
Sinergi UNS dan Reformasi UU Statistik
Guna mengikis skeptisisme publik, Komisi X DPR RI kini membuka pintu lebar-lebar bagi perguruan tinggi untuk ikut berpartisipasi dalam merancang revisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Langkah ini diambil demi mengawinkan statistik resmi pemerintah dengan riset akademik yang independen.
Potret sinergi nyata ini salah satunya dipelopori oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) di Kecamatan Banjarsari, Solo. Melalui program Kelurahan Cantik (Kelurahan Cinta Statistik), para mahasiswa diterjunkan langsung untuk melakukan pendampingan dan validasi data di lapangan secara objektif.
Kolaborasi berbasis kerja nyata yang berdampak ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas SDM statistik lokal. Dengan begitu, data yang dipasok dari unit terkecil seperti RT/RW tidak hanya sahih secara metodologi akademis, tetapi juga memiliki “nyawa” dan tanggung jawab moral demi melahirkan kebijakan yang lebih memanusiakan manusia.(*)
