CIREBONINSIDER.COM– Gedung Balai Kota Cirebon menjadi saksi bisu adu argumen konstruktif antara pembuat kebijakan dan kaum intelektual muda.
Pada Rabu (4/3/2026), Aliansi BEM Cirebon Raya resmi menyampaikan evaluasi kritis tepat satu tahun masa kepemimpinan Wali Kota Effendi Edo dan Wakil Wali Kota Siti Farida Rosmawati.
​Alih-alih menutup diri, Effendi Edo justru membuka pintu lebar-lebar bagi para mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kritik adalah “vitamin” bagi birokrasi yang sehat.
Baca Juga:Edo Sikat Habis Kabel Semrawut, Targetkan 15 KM Jalur Udara Kota Cirebon BersihTaktik Baru Wali Kota Effendi Edo, Cirebon Incar Skema 'Creative Financing' demi Akselerasi Jalan Mulus
​”Saya Tidak Antikritik, Itu Bukti Saya Bekerja”
​Dalam dialog yang berlangsung hangat namun tajam tersebut, Effendi Edo menyampaikan pesan kuat kepada publik. Baginya, sorotan mahasiswa adalah indikator bahwa roda pemerintahan sedang bergerak.
​”Kami di jajaran pemerintahan tidak antikritik. Saya justru senang. Menyoroti kinerja kepala daerah selama satu tahun ini berarti saya sudah melakukan sesuatu. Kalau saya tidak disoroti, justru saya khawatir jangan-jangan saya tidak melakukan apa-apa,” tegas Edo di hadapan para fungsionaris BEM.
​Wali Kota menekankan bahwa visi lima tahun tidak bisa disulap secara instan dalam 365 hari. Namun, sebagai putra daerah, ia memiliki beban moral untuk menyejajarkan Kota Udang dengan kota-kota besar lain di Jawa Barat.
​Rapor Merah Mahasiswa: Banjir hingga Nasib Guru Honorer
​Presiden Mahasiswa BEM Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), Alief Bintang Angkasa, hadir sebagai motor penggerak aspirasi. Ia membawa daftar tuntutan yang menyentuh langsung nadi kehidupan warga Cirebon.
​BEM mendesak langkah konkret terhadap lima poin krusial dalam visi SETARA (Sejahtera, Tertata, Aspiratif, Religius, dan Aman):
– ​Kesejahteraan Pendidik: Kejelasan gaji dan status guru honorer.
– ​Infrastruktur Dasar: Perbaikan drainase untuk memutus rantai banjir tahunan.
– ​Mobilitas Kota: Optimalisasi transportasi umum dan pemerataan Penerangan Jalan Umum (PJU).
– ​Kesehatan: Transparansi data BPJS Kesehatan agar tepat sasaran bagi warga prasejahtera.
– ​Pendidikan: Pemerataan sarana dan prasarana sekolah di seluruh wilayah kota.
Baca Juga:Effendi Edo Tantang SMSI Cirebon Jadi ‘Filter’ Hoaks, Kredibilitas Jadi Mata Uang Termahal Perusahaan PersSiti Farida: Kerukunan di Cirebon Bukan Sekadar Jargon, Tapi 'Early Warning System'
​”Kami menuntut transparansi. Visi SETARA jangan sampai hanya menjadi pemanis di baliho, tapi harus benar-benar dirasakan oleh wong kecil,” tutur Alief Bintang Angkasa.
