Suku Bunga Murah dan Dorongan Inklusivitas
Dari kacamata penjaminan, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyoroti krusialnya menjaga disiplin pasar dalam penghimpunan dana. LPS secara ketat memanfaatkan instrumen Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) yang fleksibel mengikuti dinamika suku bunga pasar.
Langkah ini krusial untuk mencegah perang suku bunga antarbank yang bisa membengkakkan biaya dana (cost of funds). Jika biaya dana berhasil ditekan, bank memiliki ruang gerak memadai untuk menawarkan suku bunga kredit yang jauh lebih murah dan kompetitif bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa pertumbuhan pembiayaan di bank Himbara maupun swasta harus berdampak nyata.
Baca Juga:Persaingan Serap Dana Memanas, Bank Raksasa dan BPD Mulai Alami Pengetatan LikuiditasLimbah Sawit RI Tembus Rp450 Miliar di Pasar Dunia, Mengapa Likuiditas Perbankan Malah Ketat?
”Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan kredit secara agregat, tetapi memastikan likuiditas semakin mengalir ke sektor-sektor produktif dan UMKM sehingga lebih inklusif dan memberikan multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian,” tegas Friderica.
Sinergi Merah Putih Kunci Pencairan Kredit
Ujung dari penuntasan sumbatan likuiditas ini berada pada kolaborasi erat lintas otoritas di bawah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Langkah menyatukan kekuatan antara BI, OJK, LPS, dan Pemerintah—yang diistilahkan sebagai Sinergi Merah Putih—menjadi kunci mutlak agar triliunan rupiah uang perbankan tidak mengendap sia-sia.
Dengan kepastian pasar yang makin terjaga, biaya pembiayaan yang murah, serta kemudahan akses bagi unit usaha akar rumput, kebekuan penarikan kredit diharapkan segera mencair demi memicu lompatan pertumbuhan ekonomi nasional.(*)
