– Brent ICE: Terkoreksi tipis US$ 0,46, bergeser dari US$ 84,43 ke level US$ 83,97 per barel.
Bagaimana Strategi Indonesia Menjaga Benteng Energi?
Meskipun penurunan ICP memberi angin segar bagi postur APBN—khususnya dalam menekan beban subsidi BBM—pemerintah enggan lengah. Pasar komoditas energi terkenal sangat sensitif dan cepat berubah.
Potensi gesekan militer skala terbatas serta dinamika stok minyak mentah mingguan Amerika Serikat masih menjadi ‘bom waktu’ yang sewaktu-waktu bisa memicu lonjakan harga balasan.
Baca Juga:Bukan Lagi Bangsa Ramah yang Lemah, Indonesia Gebrak Peta Energi Dunia lewat 50 Pabrik BioetanolDilema Energi RI: Istana Kunci Harga BBM Subsidi, DPR Endus Risiko Migrasi Massal ke Pertalite
Lantas, bagaimana langkah antisipasi pemerintah?
Satu, Transparansi Formula ICP: Kementerian ESDM konsisten menerapkan formula penetapan harga secara transparan dan akuntabel. Langkah ini memastikan kepastian iklim investasi bagi pelaku usaha hulu migas di dalam negeri.
Dua, Monitoring Geopolitik Real-Time: Pengawasan terhadap pergerakan pasokan dan konflik global ditingkatkan untuk merespons fluktuasi secara presisi.
Tiga, Menjaga Ketahanan Stok Nasional: Penyesuaian harga dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pasokan kilang dalam negeri, sehingga ketahanan energi nasional tetap solid dari guncangan eksternal.(*)
