Tidak main-main, Dedi Mulyadi membeberkan rencana jangka panjang yang jauh lebih ambisius, yaitu pendirian Institut Siliwangi. Lembaga ini diproyeksikan menjadi episentrum pengenalan eksistensi dan sejarah kebudayaan Sunda di tengah ekosistem akademik internasional di Inggris.
”Hari ini kita melakukan MoU antara Pemerintah Jawa Barat dan bank bjb. Di dalamnya ada kerja sama untuk saling mengenalkan budaya. Bahasa Sunda dan sejarah peradaban Sunda ingin menjadi bagian yang dikenalkan di Nottingham,” cetus Dedi.
Maju Tanpa Kehilangan Jati Diri
Bagi Jawa Barat, modernisasi dan tradisi lokal tidak boleh saling menegasikan. Pucuk pimpinan Jabar tersebut ingin mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada masyarakat luas: menjadi global bukan berarti harus kehilangan jati diri dan melupakan bumi tempat berpijak.
Baca Juga:Revolusi Wajah Cirebon, KDM Restorasi 4 Keraton demi Hidupkan Kembali Marwah Tatar SundaJemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026
Keterlibatan bank bjb sebagai motor finansial daerah memastikan bahwa program ini memiliki keberlanjutan (sustainability) yang matang, bukan sekadar program populis musiman yang habis dalam satu periode anggaran.
Dengan mengirimkan jangkar-jangkar kebudayaan—baik melalui guru, siswa, maupun institusi formal seperti rencana Institut Siliwangi—Jawa Barat sedang memainkan peran diplomasi kebudayaan (cultural diplomacy) di level tertinggi.
”Saya ingin memberikan pembelajaran kepada masyarakat Jawa Barat bahwa kita bisa maju dengan tetap berkebudayaan,” tegas Dedi menutup pernyataannya.
Melalui komitmen konkret ini, wajah pendidikan Jawa Barat di tahun 2026 tidak hanya bertransformasi menjadi lebih kompetitif di kancah internasional, namun juga semakin kokoh mengakar pada nilai-nilai luhur tradisi.(*)
