Kepingan puzzle pertahanan ini menjadi sempurna dengan keberadaan Ki Buyut Selawe di Desa Grogol, yang merupakan wilayah pemekaran dari tanah induk Karangkendal.
Berbeda dengan dua pilar sebelumnya yang berfokus pada kekuatan militer terbuka, elemen “Selawe” (dua puluh lima) ini bergerak di akar rumput sebagai basis pengamanan sosioreligius.
Melalui jaringan keturunannya, kelompok ini bertindak sebagai unit taktis yang menjaga stabilitas internal, merekatkan asimilasi budaya, dan memastikan masyarakat di tingkat bawah tetap kondusif dari ancaman sabotase psikologis musuh.
Sinergi Ruang yang Tak Terpisahkan
Baca Juga:Krisis Pemuda Tani di Kapetakan, Asyrof Abdik Desak Formulasi Baru Pemprov JabarMenguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor Leste
Keterikatan geografis yang sangat intim antara Desa Bungko, Karangkendal, dan Grogol dalam satu wilayah kecamatan bukanlah sebuah kebetulan sejarah.
Ini adalah bukti otentik bahwa penyebaran Islam di tanah Cirebon tidak hanya mengandalkan pendekatan kultural dan mimbar khutbah, melainkan ditopang kuat oleh kalkulasi geopolitik dan taktik militer yang matang.
Ketiga situs yang hari ini tegak berdiri di Kapetakan adalah visualisasi nyata dari sebuah benteng terpadu masa lalu—tempat di mana para laksamana, senopati, dan pasukan taktis meleburkan ego demi tegaknya panji-panji Kesultanan Cirebon.(*)
