Sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, pusaka tersebut juga menjalani ritual perawatan khusus setiap tahunnya.
”Kami merawat pusaka tersebut, di mana dalam setiap tahun kami rutin mengganti kain pelindung yang membalut pusaka itu. Momentum pergantian beriring dengan tradisi adat kunjungan Haul Syekh Magelung Sakti,” imbuhnya.
Rekonsiliasi Damai dan Legenda Telaga Remis
Alih-alih membumihanguskan wilayah taklukan, Cirebon memilih jalan asimilasi kultural yang elegan. Arya Salingsingan tidak dieksekusi, melainkan ditawan dengan penuh hormat hingga akhirnya memeluk Islam dan melebur dengan sistem kekuasaan baru.
Baca Juga:Misteri Cinta dan Terpisahnya Makbarah Syekh Magelung Sakti-Nyimas Gandasari Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung Sakti
Jejak emosional kejatuhan sang panglima dan keruntuhan era lama diabadikan rakyat dalam folklor lokal: air mata kesedihan Arya Salingsingan konon tumpah dan membentuk keindahan Telaga Remis di Kabupaten Kuningan hari ini. Sebuah monumen alam yang abadi untuk sebuah babak sejarah yang telah usai.(*)
