CIREBONINSIDER.COM – Jawa Barat sejatinya adalah Tanah Parahyangan yang melimpah air. Curah hujannya jauh lebih tinggi dibanding Jawa Tengah atau Jawa Timur. Namun kini, paradoks mengkhawatirkan justru terjadi. Provinsi yang secara alamiah paling basah ini malah berulang kali menjerit akibat krisis air bersih.
Kekeringan yang melanda berbagai wilayah Jawa Barat saat ini bukan lagi sekadar bencana musiman. Ini adalah sinyal alarm atas rusaknya benteng alami ekosistem.
Pakar Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa fenomena ini tak boleh lagi dianggap remeh sebagai “kemarau panjang biasa”.
Baca Juga:Jelang Muktamar Ke-35 NU Jombang, Cirebon Dorong Putra Daerah Jadi Rois AmResmi Dilantik, Fatayat NU Kabupaten Cirebon Teguhkan Kepemimpinan Perempuan dan Siap Hadapi Tantangan Digital
”Kalau wilayah yang punya input hujan lebih banyak saja sampai kekurangan air, artinya ada dua kemungkinan: kebutuhan warga meledak melampaui batas, atau sistem DAS kita memang sudah rusak parah,” tegas Hatma.
Ketika “Spons Alami” Parahyangan Hilang
Secara teknis, Daerah Aliran Sungai (DAS) bekerja layaknya spons raksasa. Saat musim hujan tiba, spons ini menyerap air hujan sebanyak-banyaknya dan menyimpannya di dalam tanah. Cadangan inilah yang kemudian dialirkan secara perlahan saat kemarau panjang melanda.
Sayangnya, fungsi spons alami di tanah Jawa Barat kini kian lumpuh. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi daerah resapan air justru terdesak hebat oleh pembangunan pemukiman masif, komersialisasi lahan, dan aktivitas produksi yang abai terhadap lingkungan.
Ditambah lagi dengan kepadatan penduduk yang terus melonjak, konsumsi air pun tak lagi membendung ketersediaan yang ada.
”Ketika fungsi resapan hilang, tak ada lagi air hujan yang bisa ditahan. Air langsung menggelontor menjadi air permukaan menuju sungai lalu terbuang sia-sia ke laut. Akibatnya, kondisi DAS di Pulau Jawa kian kritis dari hari ke hari,” ungkap Hatma.
Perubahan Iklim Adalah New Normal, Bukan Anomali
Masyarakat dan pemerintah sering memaklumi krisis air sebagai dampak fenomena iklim temporer seperti El Niño. Padahal, cara pandang ini dinilai keliru dan berbahaya.
Anomali iklim kini telah berubah menjadi kenormalan baru (new climate normal). Perubahan iklim global membuat lonjakan cuaca ekstrem bukan lagi kejutan, melainkan kenyataan harian.
