Sebab itu, penanganan darurat seperti pengiriman tangki air bersih hanyalah penambal sementara yang tidak menyelesaikan akar masalah.
”Suplai air lewat tangki memang solusi jangka pendek yang mutlak untuk bertahan hidup. Tapi itu tidak menyembuhkan penyakit utamanya. Akar masalahnya ada pada pemulihan fungsi resapan DAS yang harus digarap serius secara jangka panjang,” ujar Hatma.
Dampak Domino: Menyerang Kesehatan hingga Pendidikan
Dampak kekeringan yang berkepanjangan tidak pernah berhenti pada sumur yang mengering. Dampak ini merembet cepat merusak berbagai sendi kehidupan.
Baca Juga:Jelang Muktamar Ke-35 NU Jombang, Cirebon Dorong Putra Daerah Jadi Rois AmResmi Dilantik, Fatayat NU Kabupaten Cirebon Teguhkan Kepemimpinan Perempuan dan Siap Hadapi Tantangan Digital
Sanitasi yang buruk akibat krisis air langsung memicu melonjaknya risiko penyakit kulit dan pencernaan. Di saat bersamaan, beban ekonomi keluarga membengkak hanya untuk membeli air bersih eceran.
Tak berhenti di situ, bahaya kebakaran lahan dan permukiman juga meningkat tajam saat kondisi kering melanda. Ketika kesehatan warga terganggu dan roda ekonomi keluarga goyah, anak-anak akhirnya menjadi korban akhir—mereka kehilangan fokus dan kesempatan belajar secara optimal.
Jaga Kuantitas dan Kualitas Air
Memulihkan neraca air jelas bukan hanya tugas pemerintah. Sektor industri yang menyedot air dalam skala besar wajib bertanggung jawab menjaga kelestarian DAS dan menjamin kualitas limbahnya.
Di level individu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci penentu. Menjaga keberlanjutan air pada dasarnya berpusat pada dua langkah sederhana:
Pertama, menjaga kuantitas dengan bijak dan hemat menggunakan air harian agar cadangan ekosistem tetap terjaga. Kedua, menjaga kualitas dengan stop membuang sampah maupun limbah rumah tangga ke aliran sungai.
”Air itu sifatnya terbatas. Hemat air berarti menyediakan air untuk kebutuhan sesama dan ekosistem. Tidak mencemari lingkungan berarti memastikan airnya tetap layak pakai. Setiap individu punya peran penting di sini,” pungkas Hatma.(*)
