Akses terhadap mesin pengurai sabut (decorticator), sarana penjemuran yang memadai, serta kelembagaan petani yang solid masih sangat terbatas. Akibatnya, sabut kelapa tetap diperlakukan sebagai limbah ketimbang sumber pendapatan baru.
Kegagalan memanfaatkan 96,8 persen sabut kelapa adalah kerugian ekonomi yang masif. Di tengah tren global yang menuntut bahan baku ramah lingkungan, serat sabut kelapa menjadi substitusi ideal untuk material sintetis.
Jika penguatan struktur hilirisasi dilakukan secara konsisten di sentra perkebunan, sabut kelapa tidak lagi menjadi sampah, melainkan penopang utama devisa negara dan kesejahteraan petani lokal.(*)
