– Hilirisasi Komoditas Perkebunan: Kader Banser dan Ansor kini didorong masuk ke sektor pascaproduksi untuk komoditas strategis bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, cokelat, kelapa, dan tebu.
– Kader Penggerak Penyuluh Pertanian: Mengubah peran pemuda desa dari sekadar buruh tani menjadi agen perubahan yang menguasai transfer teknologi, mekanisasi modern, dan inovasi pertanian digital.
Keterlibatan aktif pemuda dalam struktur penyuluh swadaya ini menjadi angin segar di tengah isu regenerasi petani nasional yang lambat. Dengan jaringan struktural hingga ke tingkat ranting (desa), GP Ansor memiliki infrastruktur sosial yang efektif sebagai generator ketahanan pangan.
Baca Juga:Dobrak Fenomena ‘Perda Mandul’, DPRD Kabupaten Cirebon Gandeng GP Ansor Perkuat Advokasi Hukum dan EkonomiKopdes Merah Putih Resmi Kelola Tambang dan Sawit, Kemitraan Strategis GP Ansor
Kolaborasi Multisektoral Demi Kedaulatan Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan apresiasi tinggi terhadap model serapan bantuan yang dikelola oleh GP Ansor dan Banser. Menurut Amran, kedaulatan pangan mustahil dicapai jika kementerian bekerja dalam silo-silo birokrasi tanpa melibatkan organisasi massa yang punya basis sosiologis kuat di pedesaan.
Adin Jauharudin pun sepakat bahwa capaian sektor pertanian saat ini tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri.
”Satu kata saja, top. Apa yang selama ini menjadi harapan soal kapan kita swasembada dan berdaulat pangan mulai dibuktikan. Namun, pekerjaan menjaga swasembada pangan berkelanjutan tidak bisa dilakukan sendiri, harus melibatkan semua komponen bangsa,” pungkas Adin.
Melalui sinergi Kementan, Bulog, dan kekuatan pemuda, transformasi pertanian tradisional menuju modern bukan lagi sekadar narasi politik, melainkan realitas baru yang sedang membentuk fondasi ketahanan pangan Indonesia dari pinggiran.(*)
