CIREBONINSIDER.COM – Estafet kepemimpinan di Balai Kota Cirebon resmi memasuki babak baru yang krusial. Di tengah sorotan publik terkait efektivitas pelayanan, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengambil langkah besar dengan melantik 80 pejabat strategis, termasuk mengukuhkan Iing Daiman sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Senin (4/5/2026).
Pelantikan massal ini bukan sekadar rotasi administratif di atas kertas. Ini adalah sinyal “bersih-bersih” dan upaya penyegaran di jantung birokrasi Kota Udang.
Menepis Skeptisisme, Menguji Meritokrasi
Wali Kota Effendi Edo dalam arahannya tampil lugas. Ia menyadari bahwa perombakan struktur sering kali dicurigai sebagai langkah politis. Namun, Edo menjamin bahwa 80 nama yang muncul adalah hasil penyaringan ketat melalui merit system.
Baca Juga:OJK Gedor Mafia Digital: 953 Pinjol Ilegal Dilibas, Dana Rp585 Miliar Berhasil DiselamatkanEfendi Edo Semprot Disdukcapil: Tak Boleh Ada Lagi Warga Cirebon Keluh Birokrasi Berbelit!
“Saya tegaskan, keputusan ini nol persen preferensi pribadi. Semuanya melalui evaluasi kompetensi dan integritas. Kita butuh sosok yang tepat untuk target pembangunan yang terukur, bukan sekadar mengisi kursi kosong,” ujar Edo dengan nada tegas.
Edo menitipkan tiga mandat utama yang harus segera dieksekusi: adaptasi cepat berbasis data, menghapus ego sektoral yang selama ini menghambat kolaborasi, serta menjaga integritas di bawah radar pengawasan publik yang kini semakin kritis.
Misi “Penyelamatan” di Tangan Sekda Baru
Sebagai pemegang tongkat komando ASN, Iing Daiman langsung dihadapkan pada realitas yang tidak mudah. Iing mewarisi kondisi birokrasi dengan jumlah personel yang terbatas, namun dibebani target produktivitas yang melangit.
Ditemui usai prosesi pelantikan, Iing Daiman menyatakan kesiapannya menjadi “dirigen” bagi perangkat daerah. Ia secara jujur memetakan tiga titik api yang harus segera dipadamkan:
– Transformasi SDM: Menghapus budaya “mengeluh” atas kurangnya jumlah ASN dengan cara meningkatkan efisiensi kerja melalui digitalisasi.
– Harmonisasi Lembaga: Memastikan seluruh dinas berjalan dalam satu visi tunggal tanpa ada sekat birokrasi.
– Kreativitas Fiskal: Inilah poin paling krusial. Iing mengakui kondisi keuangan daerah dalam dua tahun terakhir sedang menghadapi tantangan berat.
Baca Juga:IPM Kota Cirebon Tembus 78,99: Rekor Tertinggi di Ciayumajakuning dalam LKPJ 2025 Effendi EdoPrabowo 'Gedor' Danantara: Perintahkan 100 GW Energi Surya dan Ultimatum Swasembada 4 Tahun!
“Kondisi fiskal kita memang menantang. Pilihannya hanya satu: kita harus kreatif. Kita akan gali potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan skema inovatif agar pembangunan tidak stagnan,” ungkap Iing optimis.
