Sementara itu, komoditas bumbu dapur lainnya seperti cabai merah hanya menyumbang 0,04% dan tomat berada di angka sangat rendah yakni 0,02%.
Kondisi ini mengonfirmasi bahwa pasokan dari sentra produksi masih mampu memenuhi lonjakan permintaan warga selama Ramadan.
​Solusi Jangka Panjang: Swasembada sebagai Harga Mati
​Menutup analisisnya, Ninasapti menekankan bahwa satu-satunya cara memutus rantai ketergantungan dari gejolak geopolitik global adalah dengan memperkuat Swasembada Pangan.
Baca Juga:Indramayu Siaga Satu Pangan: Strategi Tekan Inflasi Jelang Ramadan 1447 H, Stok Beras Dipastikan Melimpah!Wawali Cirebon Sebut Ancaman Inflasi Bukan Cuma Pangan, Minta Harga Kebutuhan Dasar Lain Ikut Dikendalikan
​”Sepanjang Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak bergantung pada impor, kita tidak akan terlalu terdampak oleh gejolak harga dunia. Kekuatan pangan kita ada di situ,” pungkasnya.(*)
