Berbekal tekad membara, ia pun memulai pengembaraan baru di tanah Cirebon yang ia jajaki: melacak keberadaan Sunan Gunung Jati yang misterius.
Arena Sayembara Nyimas Gandasari: Pertemuan Tak Terduga
Dalam proses pencariannya menyusuri wilayah Cirebon, langkah Syekh Magelung Sakti tiba-tiba terhenti di sebuah keramaian. Ia mendapati sebuah arena sayembara besar yang sedang dihelat di wilayah barat Cirebon.
Sayembara itu diadakan oleh Nyimas Gandasari—seorang putri angkat yang sakti mandraguna sekaligus anak angkat dari Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), yang tak lain adalah uwak dari Sunan Gunung Jati. Aturannya mutlak: siapa pun pria yang mampu mengalahkan kesaktiannya berhak menjadi pendamping hidupnya.
Baca Juga:Misteri Cinta dan Terpisahnya Makbarah Syekh Magelung Sakti-Nyimas Gandasari Tradisi Ngunjung Karangkendal Cirebon: Asal-Usul, Rujak Wuni, dan Haul Syekh Magelung Sakti
Sebagai pengembara berilmu tinggi, Syekh Magelung Sakti turut masuk ke gelanggang arena. Benturan energi raksasa pun tak terhindarkan. Nyimas Gandasari yang selama ini tak terkalahkan, dibuat kewalahan oleh kedalaman ilmu spiritual sang Syekh, hingga akhirnya sang putri memilih mundur untuk mencari perlindungan kepada pamannya sekaligus guru besarnya, Sunan Gunung Jati.
Pada saat itulah, Syekh Magelung Sakti kembali bertemu dengan sosok yang selama ini dicarinya. Pertemuan ini menjadi penutup yang indah. Alih-alih berakhir dengan pernikahan konvensional, sayembara tersebut justru memperkuat ikatan perjuangan kedua murid utama Sunan Gunung Jati ini dalam menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa.
Warisan Kuno yang Menjelma Identitas Modern
Rangkaian kisah pencarian ini pada akhirnya mempertemukan kembali para murid utama di bawah naungan Sunan Gunung Jati, menyatukan mereka dalam ikatan suci syiar Islam di tanah Jawa.
Jejak spiritual dan mitos karomah tersebut kini abadi dalam lanskap wilayah Cirebon hingga hari ini:
– Jalan Karanggetas (Kota Cirebon): Kawasan strategis tempat peristiwa patahnya rambut abadi sang Syekh. Wilayah ini juga lekat dengan mitos lokal yang diyakini secara turun-temurun—bahwa ada pamali atau pantangan bagi seorang pejabat tinggi untuk melewati kawasan ini karena dikhawatirkan dapat berakibat lengser dari jabatannya.
– Desa Karangkendal (Cirebon Utara): Wilayah tempat bermukim sekaligus pusat dakwah Syekh Magelung Sakti dalam menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan mandat langsung dari gurunya, Sunan Gunung Jati. Di sinilah situs petilasan beliau dijaga dengan khidmat oleh para kuncen, termasuk Ustadz Syatori.
