CIREBONINSIDER.COM— Ancaman krisis sampah di Bandung Raya memasuki fase krusial. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti dipaksa bertahan hingga Desember 2029, sebelum Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (TPPAS) Legok Nangka resmi beroperasi penuh pada 2030.
Untuk menahan ledakan sampah tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengeksplorasi strategi social engineering berskala besar. Langkah radikal ditempuh: memobilisasi 25.000 mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi untuk mereduksi sampah langsung dari hulu.
Inovasi Kuliah Lapangan: Amunisi 10 SKS dan Perangkat Digital
Mulai Oktober 2026, pasukan 25.000 mahasiswa ini diterjunkan langsung ke 52 kecamatan se-Bandung Raya selama tiga bulan. Mereka bertugas mengedukasi serta mendampingi warga memilah sampah dari dapur rumah tangga.
Baca Juga:Dari Sampah Jadi Pangan, Resep Cirebon Ubah Lahan Kumuh Jadi Solusi StuntingDi Bawah Bayang-bayang Rob Eretan Kulon, Anak-Anak SD Ini Ubah Sampah Plastik Jadi Karya Seni
Ini bukan sekadar program pengabdian biasa. Setiap mahasiswa mendapat reward konversi 10 SKS, dibekali modul khusus, serta dibekali perangkat aplikasi digital sebagai panduan kerja di lapangan.
Skema besar ini mengadopsi keberhasilan uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Saat itu, 500 mahasiswa terbukti mampu memangkas produksi sampah hingga 20 persen sekaligus melipatgandakan volume sampah terpilah dalam waktu tiga bulan.
Misi Vital: Cegat 1.000 Ton Sampah Sebelum ke Sarimukti
Setiap hari, Bandung Raya memproduksi sekitar 5.000 ton sampah. Sekitar 1.500 ton di antaranya terus mengalir membebankan Sarimukti, di mana separuhnya merupakan sisa makanan. Jika edukasi massal ini berhasil menekan 20 persen limbah dari sumbernya, sebanyak 1.000 ton sampah sukses dicegat setiap hari sebelum sampai ke Sarimukti.
Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, menegaskan bahwa fasilitas canggih seperti TPS 3R, pengomposan, hingga budidaya maggot sering kali mandek akibat satu kendala mendasar: sampah yang masuk masih bercampur plastik dan limbah lain.
”Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan. Kita gabungkan technology engineering dan social engineering,” ujar Herman di Gedung DPRD Jabar.
Ubah Perilaku dan Pertaruhan Harga Diri
Pemprov Jabar menilai manajemen sampah tidak bisa lagi menggunakan pola kuno “angkut lalu buang”. Di lapangan, petugas masih sering menemukan tumpukan sampah liar yang sengaja disembunyikan warga.
Kerja sama hulu, tengah, dan hilir ini menjadi tumpuan terakhir. Gerakan kolektif masyarakat, perguruan tinggi, hingga Pramuka dituntut solid agar ancaman darurat lingkungan tidak berubah menjadi bencana.
