Rusia dan Kanada Genggam Nasib Pangan Dunia, Posisi Indonesia Bikin Elus Dada

Ilustrasi-pabrik-pupuk-nitrogen
Pabrik pengolahan pupuk nitrogen dan rantai pasok energi global. Foto: Ilustrasi/AI 

​Berbeda dengan Rusia yang menguasai segalanya, Kanada menancapkan kukunya lewat kekayaan potash luar biasa yang tersembunyi di Saskatchewan.

​Kanada tercatat mengapalkan hingga 22,9 juta ton produk pupuk berbasis kalium ke pasar internasional. Amerika Serikat menjadi tujuan utamanya, sementara Indonesia ikut menadah sekitar 1,25 juta ton pupuk potash dari Kanada pada periode yang sama.

​Lain lagi cerita Maroko. Negara Afrika Utara ini menjelma menjadi pusat fosfat dunia. Maroko menguasai ekspor pupuk fosfat global dengan pengiriman mencapai 5,14 juta ton produk, mengungguli dominasi China yang berada di posisi berikutnya.

Baca Juga:​Revolusi Lele Bioflok Blora, Solusi KKP Kunci Rantai Pasok Protein Makan Bergizi GratisStok Melimpah Bantuan Mampet, Mengapa Petani Hutan Bali Sulit Akses Pupuk dan Bibit Bersubsidi?

​Peta kekuatan ini menegaskan satu hal: Siapa yang menguasai bahan baku mentah dan energi murah, dialah yang memegang kendali atas harga dan pasokan pangan dunia.

​Paradoks Pertanian Indonesia

​Lantas, di mana posisi Indonesia? Di sinilah letak ironi terbesarnya.​Sebagai negara agraris yang bangga dengan sektor pertaniannya, posisi Indonesia di panggung perdagangan pupuk global ternyata masih tertinggal jauh di papan bawah.

​Laporan FAO menempatkan Indonesia di peringkat ke-23 dunia sebagai eksportir pupuk, dengan volume pengiriman hanya sebesar 748.316 ton berdasarkan kandungan nutrisi.

​Peringkat ini terasa ironis mengingat sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang hingga 12,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, di mana subsektor pertanian dan peternakan menyumbang porsi terbesar hingga 9,52 persen.

​Prioritas Perut Domestik dan Ketergantungan Impor

​Ketinggalan Indonesia bukan berarti tidak memiliki industri pupuk yang kuat. Pupuk Indonesia Group sebenarnya mengantongi kapasitas produksi raksasa hingga 14,65 juta ton per tahun, yang didominasi oleh produksi Urea sebesar 9,36 juta ton dan NPK sebanyak 4,52 juta ton, sisanya diisi ZA dan ZK.

​Namun, besarnya kapasitas produksi tersebut tidak lantas membuat Indonesia menjadi eksportir utama dunia. Pasalnya, pemerintah memprioritaskan seluruh pasokan untuk mengamankan ketahanan pangan dalam negeri agar kebutuhan petani lokal tercukupi.

​Selain prioritas domestik, Indonesia masih memiliki celah krusial: ketergantungan pada bahan baku impor.

Baca Juga:Bongkar Skema Baru Subsidi Pupuk 2026, Pemerintah Kunci Harga Pasar, Tutup Celah Permainan Logistik​Prabowo Kumpulkan Bos Kadin di Istana: Dari Dapur MBG, Urusan Pupuk Petani, hingga Gebrakan Danantara

​Meski sangat perkasa memproduksi pupuk nitrogen seperti Urea, Indonesia belum mampu mandiri menyediakan potash. Tak heran jika Indonesia harus merogoh kocek hingga US$1,02 miliar hanya untuk mengimpor pupuk potash, terutama dari Kanada dan Rusia.

0 Komentar