​Mewakili Wali Kota Cirebon Effendi Edo, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, mengungkapkan bahwa kedekatan geografis yang diikat lewat jalur budaya dan sosial terbukti mampu memecah sekat-sekat administratif pemerintahan. Dampak instannya pun langsung dirasakan oleh sektor pariwisata dan ritel.
​Selama kegiatan berlangsung, tingkat hunian (okupansi) hotel di Kota Cirebon mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Tidak hanya itu, berbagai pusat kuliner legendaris dan stand pameran produk unggulan daerah dipadati oleh ribuan pengunjung dari luar daerah, menciptakan perputaran uang yang masif di akar rumput.
​”Kolaborasi dalam KUNCI BERSAMA ini membuktikan bahwa tantangan pembangunan di kawasan perbatasan hanya bisa diselesaikan secara berkelanjutan jika kita bergerak dalam sinergi, komunikasi, dan kolaborasi yang nyata,” urai Iing Daiman.
Baca Juga:Kalahkan Ego, Raih Sinergi: PORSENITAS Kunci Bersama XII di Indramayu Lebih dari Sekadar MedaliBupati Kuningan Terpilih Jadi Ketua Setker Kunci Bersama Periode 2025-2030
​Merawat Momentum Ekonomi Menjelang Hari Jadi Cirebon
​Pemkot Cirebon memastikan perputaran roda ekonomi ini tidak akan melambat pasca-pembubaran kontingen. Geliat pasar akan terus dijaga dan diakselerasi melalui rangkaian perayaan Hari Jadi Cirebon yang terus bergulir hingga pertengahan Juli 2026.
​Sederet agenda berskala regional telah disiapkan untuk menjaga arus kunjungan wisatawan dan perputaran uang tetap stabil, di antaranya Festival Bonsai, Festival UMKM, Festival Kuliner, hingga agenda sport tourism malam hari, Cirebon Night Run.
​Di sisi pembinaan atlet, Iing menambahkan bahwa ruang evaluasi teknis terkait fasilitas dan pelayanan tetap dibuka demi perbaikan di masa depan. Momentum juara umum ini akan dirawat secara konsisten melalui kompetisi internal dan ajang Hari Korpri.
Langkah taktis ini sengaja disiapkan agar Kota Cirebon kembali berada di performa puncak saat bertamu ke Porsenitas XIV Tahun 2027 di Kabupaten Cirebon mendatang.
​Porsenitas XIII 2026 telah memberikan cetak biru (blueprint) nyata: bahwa integrasi regional berbasis olahraga dan seni mampu menjadi instrumen valid untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan.(*)
